BUKU: ZAKAT & KEMISKINAN

⊆ 17:39 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 1 komentar »

Bagian 1

Kemiskinan

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (Kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman

(Al Quran surah 30 Ar Rum –Bangsa Romawi-- ayat 37

PELUANG dan ANCAMAN KEMISKINAN

Di banyak kesempatan, sering saya ditanya: “Apa kriteria seseorang dikatakan miskin?” Bagi anda, konyol atau keterlaluankah pertanyaan itu. Memang ada beberapa penafsiran. Pertama, pertanyaan itu memang serius. Faktanya makin hari kemiskinan bukannya berkurang malahan bertambah-tambah. Di manapun baik di kota maupun di desa-desa, mudah sekali dijumpai orang miskin. Ibaratnya di depan di belakang, di samping kanan dan kiri serta di atas dan bawah, ada orang miskin. Bahkan di kota-kota besar, di samping rumah-rumah mewah atau di perkantoran elit, orang-orang miskin membangun rumah-rumah dari kardus, seng dan triplex yang menempel kontras dengan kemewahan. Atau dalam perusahaan, bandingkan gaji tertinggi dengan terendah, bisa 50 : 1. Di kita sudah jadi kelaziman presdir dapat gaji di atas Rp 50 juta per bulan, sedang gaji office boy tak sampai Rp 1 juta per bulan. Maka sadar atau tidak, kemiskinan sesungguhnya telah terstruktur melalui kebijakan perusahaan.

Penafsiran kedua, pertanyaan itu cuma gurauan. Anda lihat, bukankah masyarakat juga sudah jenuh melihat kemiskinan yang makin meruyak di mana-mana. Bantuan sudah diberikan tapi toh kemiskinan tak juga hilang. Jadi masih pantaskah mereka dibilang miskin. Jawabnya bisa ya, bisa juga tidak. Masih pantas dikatakan miskin karena memang lapangan kerja makin langka. Saat ini memang tampaknya sulit sekali untuk bisa bekerja. Jikapun ada pekerjaan, ternyata kualifikasi yang dibutuhkan sukar dimasuki oleh angkatan kerja baru. Sementara antara lulusan sekolah dan lapangan kerja, ibarat antara deret ukur dengan deret hitung. Bahkan lulusan universitas pun ternyata belum siap pakai. Coba simak dan hitung, berapa banyak rekan-rekan sekolah dulu yang sekarang bisa anda katakan sukses.

Di sisi lain, agaknya sulit juga mereka dikatakan miskin. Sebab bisa jadi lulusan sekolah yang tak punya pekerjaan, ternyata masih mengenakan pakaian yang baik. Bahkan mungkin tetangga anda yang katanya menganggur, nyatanya masih mengendarai mobil mentereng. Mungkin karena mereka memang masih ditunjang orang tuanya. Barangkali juga mereka punya warisan, yang bunga depositonya bisa membiayai hidup sehari-hari. Ada juga yang memang pantas dikatakan miskin. Seberapapun dibantu, tetap saja kondisinya tak berubah. Bisa jadi tak berubah karena bantuan modal tak bisa mendongkrak usaha karena kondisi sulit. Atau setujukah anda, bila sikap mental seseorang juga berperan penting untuk berubah.

Umar bin Khattab ra:

Berilah pendidikan kepada anak-anakmu

karena mereka dicipta pada kondisi zaman yang berbeda dengan zamanmu

dan pada masa yang berbeda dengan masamu

Sungguh ini bukan hanya potret buram, melainkan amat berbahaya. Bagi yang masih ditunjang orang tua, mereka termasuk pengangguran semu. Seolah-olah mereka tak punya persoalan dengan kemiskinan. Namun begitu orang tua bermasalah, pensiun atau tiba-tiba meninggalkan dunia fana, kemiskinan segera menampakkan wajah aslinya untuk segera mencabik-cabik. Apakah anda juga yakin bahwa deposito merupakan cara abadi menghasilkan uang? Anda pasti setuju bahwa deposito amat tergantung pada kondisi ekonomi politik. Berapa banyak orang hancur karena nilai kurs rupiah jatuh tahun 1998. Sementara hanya berapa gelintir orang yang malah untung saat krisis moneter itu.

Text Box: Dampak tabungan atau deposito: • Hanya untuk kepentingan pribadi • Tak terjadi redistribusi asset • Uang hanya berputar di antara orang yang itu-itu juga • Entrepreneurship tidak terlatih • Sikap pasif dengan hanya menunggu bunga atau bagi hasil • Tak paham kemana redistribusi asset • Bank yang makin profesional dan paham ekonomi bisnis • Namun bank juga sering terjebak pada bisnis non-riel • Tabungan senilai 85 gram emas terkena zakat. Artinya dilarang menabung berlebih-lebihan.

...Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi dan mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”

(Al Quran surah 9 At Taubah –Pengampunan— ayat 34 – 35)

Yang jadi soal siapapun yang ditunjang orang tua dengan deposito problemnya tak beda. Keduanya mengabaikan masa-masa produktif. Saat masih muda dan enerjik, kesempatan menempa diri dalam bekerja dan mengembangkan peluang ini disia-siakan. Saat awal kerja usai sekolah, diri tak dibiasakan menerima imbalan yang hanya cukup untuk diri sendiri. Memang seringkali uang saku kuliah bulanan lebih besar ketimbang gaji awal bekerja. Namun apakah tidak ngeri, tiba-tiba kini tersadar ternyata sudah sekian tahun hidup dalam tunjangan orang tua. Bersamaan dengan bertambahnya usia, kebutuhan pun bertambah. Saat lulus kuliah dan baru lulus dulu, mungkin masih bujangan. Tapi akhirnya yang bujang pun menikah. Usai menikah, kebutuhan punya rumah sendiri masih bisa ditahan. Namun bagaimana mencegah kebutuhan anak yang mulai sekolah. Sementara kebutuhan makin besar, bekerja cari nafkah tak juga dimulai. Dalam usia yang tak lagi muda, bagaimana mungkin bisa menerima upah kecil yang harusnya diterima 10 atau 15 tahun yang lalu saat mulai bekerja.

Dalam kondisi seperti itu, pikiran pun berputar bagaimana caranya mencari uang memenuhi kebutuhan yang sudah terlanjur besar? Cara terbaik, memang dengan berbisnis. Menurut anda, usaha apa yang bisa langsung meraup untung besar? Bukankah segala usaha dimulai dari skala kecil, keuntungan kecil dan resiko juga kecil. Jika orang tua pengusaha, pendidikan terbaik adalah dengan menerjunkan anaknya berlatih di usaha itu. Anda setuju bukan. Meski awalnya dulu, ada juga yang memberontak sambil menggerutu, itu memasung kebebasan. Yang seperti ini mungkin tak paham di awal-awal dulu, orang tua sebenarnya tengah menyiapkan anak-anaknya. Tentu saja itu merupakan latihan. Bila tiba-tiba ingin punya bisnis yang langsung besar, itu namanya ingkar proses. Mereka tak sadar bahwa etos kerja harus dipupuk sejak dini. Maka sulit bukan tanpa pernah latihan, kini harus menyulap bisnis hingga sukses dalam usia yang tak lagi muda.

Kenyataannya memang usaha yang dikerjakan ternyata tak juga berkembang. Mimpi meraup laba besar tinggal mimpi. Sedang kebutuhan perut dan anak-anak tak bisa dicegah. Lalu apa yang harus diperbuat? Bukankah bom sosial mulai tersulut, yang betul-betul bakal meledak di kemudian hari. Ngeri membayangkan apa yang bakal terjadi kelak. Inilah kemiskinan semu, yang malu-malu menampakkan diri. Selalu tertutup karena tunjangan orang tua dan deposito. Namun sesungguhnya itulah bahaya laten, yang akan menghancurkan kekuatan masyarakat dan keutuhan bangsa. Awalnya mereka tak pantas dikatakan miskin. Tunjangan dan deposito mengatasi kemiskinan itu. Namun akhirnya mereka akan terlantar dan jadi miskin karena tunjangan dan deposito punya

keterbatasan.

Tabungan terbaik adalah investasi produktif.

Beberapa manfaat investasi produktif langsung:

  • Berkah karena tak menahan uang tetap diam tak bergerak
  • Mental entrepreneurship terus dipupuk
  • Anggota keluargapun terdidik dalam mengembangkan entrepreneurship
  • Terjadi redistribusi asset secara riel
  • Terjadi perputaran ekonomi di sektor riel
  • Tercipta lapangan kerja

Pertanyaan kriteria miskin di atas, pun bisa bersifat sinis. Inilah penafsiran ketiga. Kesinisan ini dipicu oleh tingkah laku orang-orang miskin itu sendiri. Saat pagi-pagi anda berbenah menyiapkan diri untuk kerja, si miskin juga berkemas. Saat anda berangkat ke kantor, ke parbrik, ke lapangan atau ke sawah, orang-orang miskin terjun ke jalan atau ke tempat keramaian. Saat anda mulai bekerja, orang-orang miskin malah sudah lebih gesit. Saat anda berangkat kerja, mereka telah beroperasi dengan meminta-minta. Saat anda bekerja di kantor, mereka juga tetap aktif mencari sedekahan. Saat anda istirahat makan siang di warung di balik tembok kantor, mereka juga datang meminta. Saat anda pulang kerja, mereka tetap mencegat sembari menengadahkan tangan mohon belas kasih. Saat anda rekreasi dengan keluarga, itu juga jadi kesempatan mereka untuk dapat sedekah lebih.

Rasulullah saw:

Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling minta-minta agar diberi sesuap dua suap nasi atau satu dua biji kurma,

tapi orang miskin itu ialah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan kemudian diberi sedekah,

dan mereka itu tidak pergi minta-minta kepada orang lain

(Bukhari Muslim)

KEMISKINAN sebagai PROFESI

Meminta-minta memang punya dua keunggulan yaitu efisien dan efektif. Bukankah azas efisien dan efektif yang diterapkan, merupakan inti kiat memenangkan persaingan. Mereka yang miskin tentu tak paham, bahwa cara meminta yang mereka lakukan ternyata memenuhi standar manajemen profesional. Efisien karena tidak memerlukan modal apapun. Semakin modalnya kurang, semakin efektif mendapat uang. Maaf, orang yang tak punya kaki dan tangan, cenderung lebih efektif mendapatkan uang ketimbang yang masih punya satu tangan dan satu kaki. Sesungguhnya zakat memang ditujukan untuk kalangan fakir seperti ini. Bagi yang masih lengkap tangan dan kaki, cukup bertepuk tangan dan menyanyi lagu apa saja. Semakin menyedihkan dan menyayat, semakin besar peluang mendapat sedekah.

Dalam hal semangat, mereka yang meminta-minta terbukti tak kalah etos kerjanya dengan anda. Dari pagi hingga malam, mereka bekerja dengan meminta-minta. Padahal di jalan-jalan itu ada juga kelompok lain yang bekerja menyapu jalan. Bahkan ada yang Soeharto, presiden masa Orde Baru, katakan sebagai Laskar Mandiri. Laskar ini tak pasrah pada nasib, memunguti apapun yang masih bisa didaur ulang. Ketiga pihak itu yaitu tukang sapu, peminta-minta dan pemulung memiliki kondisi yang sama. Semua sama-sama miskin, sama-sama terjun menyusuri jalan dan sama-sama cari nafkah. Mereka juga punya isteri, punya anak dan sama-sama tengah membina keluarga. Namun karena berbeda dalam metode dan cara mencari uang, proses dan hasilnyalah yang akan berbeda. Hasil ini bukan hanya semata banyaknya uang yang diperoleh. Yang tak kalah pentingnya adalah lahir sebuah sikap mental yang berbeda karakternya.

Orang miskin yang menyapu jalan dan Laskar Mandiri, sesungguhnyalah mereka fuqara walmasakin. Mereka tidak eksploitasi kemiskinan sebagai modal kerja. Mereka cegah dirinya agar tak hina. Dengan bekerja menyapu, mereka tengah megeksplorasi diri. Mereka bina mental untuk tetap berupaya mencari rezeki. Proses how to survive ini akan berpengaruh pada pembinaan mental keluarga. Bila sang bapak yang menyapu jalan tersebut paham tentang harkat sebuah pekerjaan, ia larang keluarganya meminta-minta. Meski sang bapak paham dan telah tenggelam selama bertahun-tahun bahwa pekerjaan menyapu jalan memang tidak pernah bisa jadi landasan keluarga untuk hidup layak.

Rasulullah saw:

Berangkatlah kamu pagi-pagi, kemudian pulang memikul kayu api di punggungmu

Lalu kamu bersedekah dengan itu tanpa meminta-minta kepada orang banyak

Itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta kepada orang banyak

biar diberi ataupun tidak

Sesungguhnya tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang menerima

Dan dahulukanlah memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu

(Muslim)

Kepala keluarga yang menyapu jalan, telah mempraktekkan pesan Rasulullah saw. Ia nafkahi keluarga dengan bekerja membersihkan jalan. Itu adalah hasil keringatnya, bukan meminta-minta. Sementara orang miskin yang meminta-minta, menjadikan kemiskinan sebagai sumber nafkah. Dari hasil mengemis ini, penghasilan mereka memang berkali lipat ketimbang rekan-rekannya yang menyapu jalan. Di kota-kota besar terutama di Jakarta, penghasilan dari meminta-minta ini bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari. Jika minimal seratus ribu rupiah per hari, maka penghasilan peminta-minta mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan. Berapa gaji anda? Bukankah ini penghasilan pegawai swasta yang memiliki jabatan setara kepala bagian. Itu semua diperoleh tanpa bersusah payah sekolah, tanpa perlu magang atau melalui jenjang pelatihan dan pengalaman sekian tahun bekerja. Hanya dengan memasang “wajah penghabisan”, mencari rezeki menjadi mudah bagi kalangan peminta-minta.

Kemiskinan gaya baru memang telah berkembang, yang menjadikan kemiskinan sebagai profesi. Definisi kemiskinan tak lagi menjelaskan status sosial, melainkan telah jadi sumber mencari rezeki. Itulah fuqara walmasakin yang telah berubah jadi fuqara masa kini. Jumlah fuqara masa kini makin hari bertambah-tambah. Yang dikoordinir maupun yang terjun tanpa koordinasi meruyak di mana-mana. Seperti di berbagai perempatan jalan, mereka tiba-tiba hadir berkelompok. Yang tidak dikoordinir, mengerahkan anak-anaknya meminta-minta. Sementara para orang tuanya memantau dari tepi jalan atau sudut-sudut tembok yang sulit dilihat pengguna jalan. Sebuah fenomena baru, mengemis jadi profesi. Di kota-kota besar mereka tinggal sekadarnya. Tapi di kampung, siapa sangka di antara mereka, ada yang memiliki rumah, kerbau dan sawah.

Nabi Muhammad saw:

Siapa yang meminta-minta kepada orang banyak untuk menumpuk harta kekayaan, berarti dia meminta bara api

Baik yang diterimanya sedikit ataupun banyak

(Muslim)

Juga seperti yang banyak dikatakan orang, pengemis yang dikoordinir, harus mengganti baju serta menggendong bayi sewaan. Dengan mencubitnya, bayi pun menangis. Dengan harapan iba pengguna jalan terpantik untuk segera merogoh kocek. Sering anda langsung memberi. Tapi terkadang anda tak peduli. Anak-anak jalanan pun jumlahnya tidak berkurang-kurang. Anak-anak yang terjun ke jalan karena problem kemiskinan di rumah, seolah mendapat dukungan dengan penyediaan fasilitas seperti rumah singgah. Penanganan ini memacu teman-teman yang lain untuk bersama-sama menjadi anak jalanan. Sedang di jalan-jalan tempat ibadah, sering dikunjungi para pengemis. Setiap hari Jumat, sekitar pukul 10 pagi pengemis sudah berdatangan memenuhi jalan menuju masjid. Demikian juga dengan berbagai klenteng. Di tiap hari libur atau saat perayaan Imlek, pengemis pun banyak mencari rezeki dari belas kasihan pengunjung. Namun yang menarik, mengapa sedikit sekali pengemis berkeliaran di berbagai gereja di hari libur Ahad.

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,

padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya),

jika kamu orang-orang yang beriman

(Al Quran surah 3 Ali Imran –Keluarga Ali-- ayat 139)

JENIS KEMISKINAN

Kemiskinan tak hanya menjelaskan tentang kondisi ekonomi seseorang. Kemiskinan juga bisa menggambarkan kondisi lain di luar persoalan ekonomi. Ada kemiskinan lain yang inti soalnya terletak pada kekurangan seseorang pada satu atau beberapa hal. Kekurangan ini bisa kita telusuri melalui istilah dhuafa yang berasal dari kata dha’if, artinya lemah, tidak berdaya, kekurangan. Konotasi arti katanya mengarah pada kelemahan dan kemiskinan. Dalam menafsirkan konteks maknanya, kata dha’if dapat menjelaskan sekurang-kurang pada tiga hal:

  1. Miskin Jiwa
  2. Miskin Ilmu
  3. Miskin Harta

Miskin Jiwa

Kemiskinan jiwa diakibatkan oleh kelemahan aqidah. Sebelum Islam datang, zaman itu dikatakan zaman jahiliyah (kegelapan). Kegelapan ini ditandai dengan:

  • Penyembahan pada berhala, pohon, api dan matahari (politeisme) yang membuat jiwa menjadi liar tanpa terkontrol.
  • Perilaku sosial destruktif yang suka berperang, saling menindas, merasa paling hebat, mengumbar hawa nafsu serta tingkat kesombongan yang gengsi yang amat tinggi seperti terlihat dengan adanya kalangan budak dan majikan.

Kemiskinan jiwa sering juga dikatakan dengan kemiskinan moral atau kemiskinan hati. Kemiskinan ini cenderung diakibatkan oleh minimnya pribadi yang bersangkutan hidup dalam kondisi saling menolong. Kehidupan yang dijalaninya lebih didominasi oleh kehidupan masing-masing, lebih mementingkan diri pribadi sendiri. Segala sesuatu cenderung dihitung berdasarkan untung rugi. Jika seseorang melakukan sesuatu, imbalannya dihitung berdasarkan materi. Di daerah perkotaan, sekadar menunjuki jalan pun misalnya, ada uang rokok. Pengaturan mobil keluar masuk di gang-gang, sebagian sudah dilakukan terorginisir dengan sistem tiga shift. Shift pertama dari jam 06.00 – 10.00. Shift kedua pukul 10.00 – 14.00. Shift ketiga pukul 14.00 – 16.00.

Di perkotaan masing-masing pribadi telah sibuk dengan urusannya. Karena kesibukannya, sering kali hubungan personal menjadi amat terbatas. Untuk berkunjung atau menjalin silaturahim pun, tiap individu harus paham kapan saat terbaik. Dengan tiba-tiba muncul tanpa ada pemberitahuan atau janji, bisa jadi akan diterima dalam suasana yang kurang kondusif. Misalnya bisa diterima dalam waktu amat terbatas. Atau juga bisa diterima di tempat yang tidak memungkinkan bercakap lama-lama, misalnya di depan WC atau di gudang belakang kantor. Ini merupakan cara penolakan yang halus.

Miskinnya jiwa atau moral, juga bisa diakibatkan oleh minimnya sentuhan agama. Sedari kecil, keluarga tidak menjadikan pendidikan agama menjadi nomor satu. Semua dikonsentrasikan untuk pendidikan umum atau keduniawian saja. Tanpa sentuhan agama, jiwa menjadi kering. Tak ada tausyiah, tak ada pembangkitan kesadaran untuk menemukan jati diri yang bisa membedakan antara hak dan kewajiban, tak mengenal Allah SWT, asing dengan sikap dan perilaku Rasulullah SAW hingga jiwa sulit menerima akan anjuran-anjuran yang diajarkan Islam. Barangkali menjadi relevan mengapa zakat yang menjadi satu tiang Rukun Islam, kedudukannya tidak dianggap sebagai sebuah kewajiban.

Tanpa sentuhan agama ini, secara hakiki manusia yang lahir tak berbeda dengan mahluk lainnya. Sosoknya saja merupakan manusia. Tetapi cara berpikir, sikap, tindakan dan tabiatnya tak beda dengan binatang. Bahkan Al Quran menyebut bahwa manusia sering terjerumus hingga menjadi lebih rendah dari binatang. Sebagai contoh bandingkan dalam hal makanan. Binatang akan memakan apa yang sudah menjadi makanannya. Dalam kondisi lapar akut pun, jarang sekali ada binatang yang makan bukan sesuatu yang bukan makannya. Harimau misalnya sulit sekali untuk bisa makan nasi dengan tahu dan tempe. Sementara jika binatang makan, mereka segera berhenti setelah dirasa cukup. Tak ada binatang yang tubuhnya over weight karena kelebihan makan. Gajah atau kuda nil memang dikodratkan bertubuh raksasa. Jadi bukan karena mereka rakus, melainkan karena tubuhnya butuh porsi makan yang besar.

Bagi anda yang bertubuh gemuk, keresahan bisa muncul tiap saat. Bagi yang kurus, anda terbebas dari problem kegemukan. Di beberapa kaca mobil belakang, sering tertulis: Cara Aman Menurunkan Berat Badan 10 – 15 kg”. Hubungi telpon... Ini anjuran diet, yang menempatkan kegemukan sebagai peluang bisnis. Anjuran diet itu, minimal melibatkan dua pihak: pengguna dan penyedia jasa. Bila anda penyedia jasanya, jelas itu bisnis. Bagi pengguna, tujuannya untuk hidup sehat serta tampil lebih cantik dan bugar. Makanan penggantinya adalah makanan yang full gizi. Makanan pengganti ini tetap akan membuat tubuh fit sepanjang hari. Jadi diet itu hanya mengurangi kuantitas jumlah makanan, tanpa mengurangi kualitas gizinya. Maka tanpa sentuhan agama, segala sesuatu tetap akan dihitung berdasarkan untung rugi.

Sedang anjuran Islam, penuh dengan keberkahan. Satu kebajikan yang dianjurkan, akan melahirkan kebajikan lainnya. Diet di Islam, sangat dianjurkan dengan mengurangi makan atau melalui puasa. Dengan puasa bukan hanya kuantitas makanan yang dikurangi, melainkan juga kualitas gizinya. Dengan puasa, mental seseorang tengah ditempa. Ia dilatih menderita lapar, seperti kelaparan yang selalu dialami oleh banyak kalangan fakir miskin. Puasa melatih seseorang untuk mengendalikan nafsu, bukan hanya dalam hal makanan. Melainkan juga dalam banyak segi, seperti menahan diri dari kebohongan atau menahan diri dari membicarakan kejelekan orang lain. Bahkan syahwat yang halal pun dilarang saat sedang berpuasa.

Salah satu inti tujuan puasa tak lain adalah membentuk karakter manusia agar memahami penderitaan orang lain. Dengan memahami kesulitan orang lain, diharap terjadi hubungan yang tidak egoistis. Kehidupan pun akan berjalan dalam kondisi yang tidak nafsi-nafsi. Masyarakat yang tidak egoistis, akan memancar sikap penuh kasih yang saling memberi dan menolong. Dengan kondisi saling membantu, harmoni sosial pun terjalin. Keresahan sosial dan kecemburuan akibat jurang kaya miskin dapat terhapuskan. Sebab tak ada sikap sombong dan mementingkan diri sendiri dari orang-orang kaya. Dengan harmoni sosial yang terwujud, si miskin akan bisa menerima kekurangannya dengan wajar tanpa ada kecemburuan dan dendam pada orang-orang kaya.

Kenapa kamu tidak tolong menolong?

Al Quran surah 37 Ash-Shaffat (Yang Bersaf-saf) ayat 25

Itu keberkahan dari ajaran puasa. Yang jika diamalkan sesuai dengan esensinya maka dihasilkan suatu kebajikan yang tidak pernah dapat kita bayangkan sebelumnya. Dari sekadar melatih lapar, ternyata maknanya dapat mendukung terciptanya harmoni sosial di masyarakat. Dalam hal kepedulian ini, Islam malah telah menggariskan dengan kewajiban berzakat bagi muslim yang mampu. Jadi berbeda dengan anjuran puasa yang salah satu maknanya dapat membangkitkan kepedulian kepada sesama umat manusia. Zakat ditegaskan sebagai kewajiban, yang tujuannya adalah untuk menciptakan harmoni sosial. Zakat jadi lambang kepedulian, suka atau tidak serta ikhlas ataupun tidak. Ada cara yang tersamar tujuannya seperti puasa. Ada juga cara yang tegas dan lugas hingga diwajibakan adanya zakat.

Itulah ajaran Islam. Konsepnya sempurna. Metode penerapannya juga sempurna. Dalam hal tauhid keimanan, Islam tidak pernah dan tidak akan kompromi. Tapi dalam menuju pada ridha Allah, ada jalan yang tahapannya sesuai tingkat kemampuan masing-masing. Islam tak pernah memberatkan umatnya. Selalu ada jalan apapun situasi dan kondisinya. Selalu ada cara pemecahannya apapun problemnya. Orang yang sakit parahpun, boleh shalat hanya dengan memberi isyarat saat ruku dan sujud. Orang yang tak mampu puasa karena uzur, boleh menggantinya dengan fidyah. Orang miskin yang tak punya apa-apa, dibebaskan dari dua Rukun Islam, yakni kewajiban berzakat dan pergi haji.

Itulah Islam, agama yang selalu memberikan jalan keluar. Agama samawi terakhir ini mengajarkan manusia tentang adanya hari pembalasan. Setelah mati tiap orang kelak dibangkitkan, sesuai dengan niatnya saat mati. Tiap orang akan dituntut pertanggungjawabannya sesuai dengan amalnya. Ajaran inilah yang meremukan ego manusia. Yang pada saat bersamaan, sekaligus mendorong jiwa menjadi kaya akan moralitas. Peka pada kesulitan, pada penderitaan dan pada ketidakberdayaan sekitarnya. Sebaliknya tanpa sentuhan Islam, manusia tak paham akan dirinya. Manusia tak paham tentang jati diri AllahSWT. Manusia hanya tenggelam dalam ego masing-masing. Jiwa jadi kering. Yang azas pertolonganpun didasarkan pada perhitungan untung rugi. Jiwa yang kering sama sekali tak akan melahirkan kebaikan. Jiwa yang kosong, juga akan menihilkan moralitas. Tanpa moral, manusia jadi berbahaya bagi manusia yang lain dan kehidupan. Tak ada belas kasih. Tak ada kepedulian dan kepekaan nurani. Itulah dampak dari kemiskinan jiwa.

Dan disempurkan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan

(Al Quran surah 39 Az Zumar –Rombongan— ayat 70)

Katakanlah, adakah sama antara orang-orang yang berilmu

dan orang-orang yang tidak berilmu?

(Al Quran Surah 59 Az Zumar –Rombongan-- ayat 9)

------EDIT SINI & GRS BAWAH GMN ILANGINNYA:

Miskin Ilmu

Ada pendapat lama yang mengatakan: Ilmu tanpa agama adalah buta. Agama tanpa ilmu adalah pincang. Pameo lama ini sesungguhnya keliru. Sebab kata-kata ilmu tanpa agama, lugas sekali menegaskan bahwa agama bukanlah ilmu. Islam sebagai agama, bersumber pada Al Quran dan Al Hadits. Quran berisi ajaran sebagai sebuah konsep yang sempurnamanhaj atau sistem. Sedang Hadits merupakan petunjuk penerapan sebagai metodenya. Sebagai sebuah ajaran yang sempurna, Islam mengajarkan adanya Allah SWT sebagai Maha Ilmu sumber dari segala sumber ilmu. Untuk memahami Quran, ada ilmunya. Untuk memahami hadits, juga ada ilmunya. Maka untuk memahami kedalaman ilmu yang dikandung Islam, mutlak harus dicapai dengan ilmu sesuai dengan kemampuannya. Itulah kesempurnaan Islam, tak pernah memberatkan umatnya. Tiap orang berbeda kapasitas dan kapabilitasnya.

Siapapun yang memegang teguh Quran dan Hadits, akan selamat dan bahagia dunia akhiratnya. Kebahagiaan di dunia adalah ilmu dan amal. Kebahagiaan di akhirat adalah surga. Untuk menuju ke sana dibutuhkan ilmu dan amal perbuatan. Untuk menggapai ilmu, diperlukan suatu perjuangan. Untuk menerapkan ilmu itu, juga dibutuhkan kegigihan perjuangan. Semua itu adalah jihad. Quran berisi ayat kauliyah. Yang sejak pertama dilahirkan hingga yaumil akhir, tetap akan terdiri dari 30 juz. Tidak akan pernah berlebih dan tak akan pernah berkurang. Namun dari Quran ini diperoleh pengetahuan, bahwa di samping ayat kauliyah itu masih terdapat ayat kauniyah yang tidak tercatat. Ayat kauniyah itu terjelma dalam bentuk apapun di alam semesta dan hari nanti. Ayat kauniyah ini dapat dilihat, dirasakan, dipikirkan dan dibayangkan. Baik menyangkut diri manusia baik jasmani maupun rohani. Mahluk-mahluk lain ciptaan Allah SWT. Flora dan fauna sebagai lingkungan hidup. Dan masih banyak lagi kehidupan dan segala sesuatu yang tak belum mampu dikuak misterinya oleh manusia. Maka tidak akan cukup lautan jadi tinta, dan kayu dijadikan penanya untuk menuliskan tentang Allah SWT. Ilmu Allah tidak terbatas.

Katakanlah: “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhan-ku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhan-ku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”

(Al Quran surah 18 Al Kahfi –Gua- ayat 109)

Ilmu terbagi atas ilmu yang fardhu ain dan fardhu kifayah. Ajaran Islam mutlak merupakan fardhu ain, yang harus dipelajari tiap muslim. Tujuannya untuk keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat setiap muslim. Yang termasuk dalam fardhu kifayah adalah semisal ilmu kedokteran. Tiap orang tidak mutlak mempelajari ilmu kedokteran, lebih-lebih hingga menjadi dokter. Tiap orang dibolehkan memilih satu atau dua ilmu fardhu kifayah, sesuai dengan minat dan kesanggupannya. Maka di masyarakat, harus ada sebagian yang mempelajari. Tujuan ilmu kedokteran, untuk mengurus kesehatan masyarakat. Demikian juga dengan ilmu matemtaika. Tujuannya agar terjadi perhitungan yang akurat, hingga seluruh transaksi dapat dipertanggungjawabkan.

Ada dua tujuan dipelajarinya suatu ilmu. Pertama untuk kemaslahatan manusia. Kedua untuk perkembangan ilmu itu sendiri. Dalam hal fardhu kifayah, siapa yang tak berpendidikan identik tak berilmu. Lepaslah dunianya. Jika yang tak berpendidikan harus hidup, mereka hanya mengandalkan tenaga. Jadi kuli angkut atau tukang cuci contohnya. Jika mereka punya sedikit ketrampilan, ilmunya yang sederhana berkembang sesuai perkembangan waktu. Karena pengalaman akhirnya dari asisten tukang jadi tukang batu. Jika ketrampilan itu matang, jadilah mereka sebagai ahli bangunan. Jika aspek manajerial pun tumbuh, jadilah mereka mandor. Jika sisi bisnis mulai diketahui, mereka akan membuat perusahaan. Dimiliki sendiri yang dimulai dengan kecil-kecilan. Semua itu bisa mereka peroleh dengan tahapan perkembangan ilmu dan sikon kejiwaan. Semakin ke atas, semakin sedikit yang bisa menggapai puncak. Ibarat naik gunung, hanya beberapa saja yang bisa mencapai puncak dari sekian pendaki

...dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit

(Al Quran surah Al Isra –Perjalanan Malam Hari-- ayat 85)

Dalam hal fardhu ain, ilmu Islam yang dipelajari harus juga dipraktekkan. Jika Islam yang dipelajari tidak diamalkan, ilmu itu tidak akan memberi manfaat banyak bagi dirinya. Ia hanya akan jadi pengetahuan. Tapi saat diwacanakan, ajaran Islam itu tetap bermanfaat karena akan memberi pengetahuan pada masyarakat. Bila Islam sungguh-sungguh jadi way of life, insya Allah keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat bisa dicapai. Sebagai way of life tiap muslim akan hidup sesuai dengan tuntunan Islam. Ambil contoh seorang dokter. Apa ciri dokter muslim? Inti ciri terletak pada taqwanya sebagai muslim. Kebetulan saja profesinya sebagai dokter. Ciri dokter yang taqwa, di antaranya tarif tidak pukul rata pada tiap pasien. Bahkan dokter taqwa tak sampai hati membebankan tarif pada pasien yang tak mampu bayar. Sebab siapa sih yang mau sakit. Ciri lain misalnya, dalam memberi resep bukan dirujuk pada obat produk perusahaan farmasi yang telah mengkontraknya. Dokter yang taqwa, sungguh-sungguh akan melihat dampak obat pada pasien. Dengan atau tidak menjelaskan dampak pada pasien, tanggung jawabnya akan menuntun ia tidak sembarangan memberi obat.

Demikian juga sarjana hukum yang jadi pengacara atau hakim. Islam yang telah jadi way of life, menuntun cara berpikirnya, sikap dan tingkah lakunya. Pengacara dan hakim yang taqwa, mustahil bisa dibeli dengan uang. Ajaran Islam akan menuntun mereka untuk tak memenangkan klien kaya raya yang bersalah. Dirinya pun akan digugat dan dituntut Islam jika memvonis salah klien yang benar. Pembelaan dan putusan pada tiap klien, didasarkan pada azas keadilan dan kebenaran. Adil dan benar menurut tuntunan Islam. Jika pengacara dan hakim yang paham hukum telah mempermainkan keadilan, rusaklah kehidupan bermasyarakat. Begitu juga dengan sikap pedagang. Pedagang yang taqwa pasti jujur. Mutahil dirinya akan menipu pembeli dengan segala sumpah. Dia terjaga untuk tidak menyukat timbangan. Pedagang taqwa juga tak sampai hati mengoplos minyak. Bahkan tak mungkin tega menjadikan moment bencana alam sebagai sarana untuk mengambil laba sebesar-besarnya.

Sembilan dari sepuluh sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga adalah

SAUDAGAR

Sungguh amat banyak dokter, pengacara, hakim serta saudagar yang muslim. Namun berapa yang sungguh-sungguh taqwa menjadikan Islam sebagai way of life? Ketaqwaan mereka sebagai muslim, bukan dilihat saat mereka diam, mengangguk-angguk seolah begitu santun dan patuh di masjid dan pengajian. Shalat berjamaah di masjid, tak bisa jadi ukuran mutlak taqwa tidaknya seseorang. Ini ibadah ritual. Pengajian juga demikian. Santunnya jamaah yang mendengar, tak mutlak mengindikasikan bahwa yang mengangguk-angguk merupakan jamaah amat taqwa. Ini hanya bagian dari dakwah normatif. Taqwa tidaknya seorang dokter, amat ditentukan pada saat berhubungan dengan pasien. Bagi pengacara dan hakim, taqwanya ditentukan waktu memproses klien dan penentuan perkara. Untuk paham ketaqwaan pedagang, lihatlah di pasar.

Keempat pihak tersebut, dokter, pengacara, hakim dan pedagang merupakan contoh baik. Jika mereka jadikan Islam sebagai landasan way of life, sesungguhnyalah mereka juga ustadz. Karena tak berlatar pendidikan formal keagamaan, jangan tuntut mereka berdakwah seperti guru-guru agama. Namun kembangkan metode baru dakwah, melengkapi dakwah normatif yang telah disyiarkan oleh para ustadz. Biarkan dokter berdakwah dengan ilmu kedokterannya. Kondisikan pengacara dan hakim berdakwah dengan putusan perkara yang adil dan benar. Buktikan pula bahwa di pasar pun masih ada pedagang yang jujur. Serta tak bisakah akuntan menyusun laporan keuangan dengan benar. Jangan mengakali penyusunan laporan. Apa yang dipublikasikan berbeda dengan laporan untuk pemilik.

Sesungguhnya Kami telah datangkan kitab kepada mereka,

Kami jelaskan dengan pengetahuan

(Al Quran surah 7 Al A’raaf –Tempat Tertinggi— ayat 52)

Dari sekian banyak paham yang mengajarkan ilmu, hanya tiga yang merupakan agama samawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Meski berasal dari satu Tuhan, ketiga pemeluk agama samawi ini sulit hidup berdampingan. Yahudi dengan konsep Zionismenya, terus berjuang dengan segala cara untuk bisa diakui sebagai bangsa yang sah. Umat Nasharah dengan strategi dakwahnya ke seluruh dunia, menimbulkan berbagai guncangan. Sedang umat Islam, sebagian besar terjebak dalam kemiskinan. Bahkan kini dihadapi tudingan terorisme. Masing-masing pendukung agama samawi ini memiliki argumen sebagai pembenar dan pengesah tindakan mereka. Tetapi ditilik dari segi obyektivitas, ada beberapa hal yang dapat menjelaskan kedudukan Yahudi, Kristen dan Islam.

Pertama dilihat dari tahapan turunnya agama samawi ini, Islam turun untuk terakhir kali. Setelah Islam tak ada lagi agama samawi yang diturunkan Allah SWT. Secara logika, tahapan akhir merupakan penyempurna. Dalam ilmu dan teknologi, misalnya, temuan teknologi terkini jelas memiliki posisi sebagai penyempurna dari berbagai penemuan sebelumnya. Kedua ditinjau dari konsep baku, Al Quran merupakan kitab yang tidak pernah berubah satu huruf pun sejak diturunkan hingga kini. Jika esok ada perubahan, penghafal-penghafal Quran akan segera membenahi dan mengembalikan kepada jalurnya. Ketiga belum pernah terdengar kabar bahwa ada satupun orang yang hafal kitab Yahudi dan Injil. Tetapi orang yang hafal Al Quran, jumlahnya tak terhitung. Untuk mendatanya secara akurat, dibutuhkan suatu metode yang bisa langsung mendeteksi hafidz Quran yang wafat dan hafidz yang baru. Misalnya hampir seluruh imam masjid di Timur Tengah merupakan orang yang hafal Quran. Hafal Al Quran merupakan persyaratan mutlak untuk bisa jadi imam di sana.

Keempat orang yang baru masuk Islam, kebanyakan berlatar pendidikan yang baik. Mereka memeluk Islam bukan karena terpaksa, seperti kesulitan dalam ekonomi misalnya. Mereka masuk Islam karena tekanan mental, karena jiwa selalu kosong dan asing serta tak pernah bisa memahami arti hidup yang sesungguhnya. Dalam Islam semua itu dijelaskan. Islam membolehkan pertanyaan apapun juga. Tanpa ditutup-tutupi, tanpa sekat dan tanpa perantara. Islam akan menjawab seluruh pertanyaan manusia. Kelima ajaran Islam ternyata memiliki banyak faedah. Bahkan karena tidak diduga manusia, manfaat yang berlebih itu seolah jadi keajaiban. Puasa Ramadhan misalnya tak dijumpai dalam agama manapun. Manfaat menahan nafsu dalam berpuasa, ternyata menghancurkan ego manusia yang selalu jadi bibit kerusakan sosial. Bahkan puasa itu, ternyata merupakan satu cara sempurna dalam menyehatkan tubuh. Ilmu kedokteran pun mewajibakan pasiennya untuk puasa sebelum operasi besar. Dengan puasa, metabolisme tubuh dalam kondisi stabil. Suatu kondisi yang dibutuhkan agar operasi dapat berjalan baik tanpa gangguan dari pasien.

Keenam hanya Islam yang punya fondasi Rukun Islam dan Rukun Iman. Dua rukun yang tidak dijumpai di agama manapun dan kepercayaan apapun. Sebagai pemeluk Islam, seseorang harus menjalankan Rukun Islam sebagai tuntutan menjadi muslim. Jika mereka tak dapat mampu menunaikan zakat dan haji, Islam pun tetap mengakui mereka yang punya keterbatasan materi sebagai muslim. Sebagai pemeluk Islam, mereka pun harus mempercayai mutlak Rukun Iman. Jika tak percaya sedikitpun, maka iman mereka sebagai mukmin diragukan. Bila ditanyakan pada agama dan kepercayaan lain, bisakah mereka menjawab dua pertanyaan itu: Apa fondasi rukun agama yang mereka harus jalankan. Dan percaya pada siapa? Jika sulit menjawab pertanyaan ini, sesungguhnya iman seperti apa yang tengah dicari.

Ketujuh ditilik dari keilmuan, Allah SWT membagi Islam dalam 2 bagian utama: Kitab Al Quran sebagai konsep utuh. Dan Nabi Muhammad SAW merupakan contoh bagaimana membumikan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari. Inilah Islam, ajaran yang memang tak salah dikatakan sebagai ajaran sempurna. Al Quran dan Al Hadits, keduanya bermuara pada Allah SWT. Ijma para ulama, juga bersumber pada Al Quran dan Al Hadits, yang akhirnya juga bermuara pada Allah SWT. Ijtihad yang dilakukan, pun harus bersumber dan bermuara pada Allah SWT. Maka sumber dari segala sumber ilmu adalah Allah SWT.

Bahkan (Al Quran) itu adalah bukti-bukti yang jelas

di dalam dada mereka yang diberi pengetahuan

(Al Quran surah Al ‘Ankabut ayat 49)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

Manusia itu ibarat barang logam seperti logam emas dan perak.

Orang yang baik pada zaman jahiliyah, menjadi baik pula pada masa Islam

apabila mereka itu berpaham (berilmu)

(Bukhari Muslim)

Miskin Harta

Saya yang tak punya cita-cita jadi PNS, akhirnya pernah merasakan karena ditawari jadi peneliti. Barangkali peneliti memang beda kondisinya, begitu pikiran saat itu. Tak sampai satu bulan usai S1, saya kuak babak baru sebagai peneliti arkelogi di tahun 1985. Sebagai PNS golongan III A, gaji tak sampai Rp 100.000 / bulan. Hanya tiap dua bulan, ada penelitian ke lapangan yang rata-rata butuh waktu 15 hari. Untuk penelitian lapangan ini, disediakan lump sum dengan honor Rp 55.000 / hari. Lump sum digunakan untuk biaya akomodasi, konsumsi, tranpor lokal dan uang saku. Belakangan saya baru sadar, di situ ada manajemen lump sum. Bendahara lapangan yang ditunjuk memang harus cakap. Agar usai penelitian ada uang saku yang dibawa untuk keluarga. Dengan 15 hari penelitian, uang yang dibawa bisa mencapai sekian ratus ribu rupiah>

Dalam proses pemenuhan kebutuhan PNS ini, negara melakukan dua kesalahan struktural. Pertama, gaji kecil merupakan kebijakan agar PNS siap jadi miskin. Kedua dengan lump sum, PNS disilakan menyiasati projek guna cari tambahan penghasilan. Ini merupakan latihan agar PNS bisa bertahan hidup. Atau syukur-syukur bisa keluar dari kemiskinan. Dua hal inilah –gaji kecil dan lump sum— yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai salah satu cikal bakal bibit korupsi di Indonesia. Kegiatan proyek ini merangsang adanya mark up. Caranya menambah hari dan jumlah tenaga. Saat mencairkan dana, juga sudah terjadi penyunatan. Istilahnya TST (Tau Sama Tau). Cara ini mendewasakan diri untuk cari tambahan penghasilan, menyiasati apapun yang bisa di-obyekan. Karena telah berjalan berpuluh tahun, akhirnya korupsi di Indonesia telah melembaga, terencana dan sistematis. Merambah seluruh kehidupan dan merebak ke segala penjuru tanah air. Ibarat mahluk hidup, korupsi itu telah berkembang biak jadi species dan genus tersendiri. Tak lagi perlu diajari how to corrupt-nya.

Text Box: Di pertengahan akhir tahun 90-an, ada kisah terpenggal yang tragis dari kampus IPB Bogor. Menurut Jamil Azzaini, Vice President  Dompet Dhuafa, ada seorang mahasiswi baru IPB yang tidak keluar-keluar kamar saat awal perkuliahan. Beberapa hari ditunggu tak juga muncul. Kecurigaan makin menjadi-jadi bersamaan dengan bau menyengat muncul dari kamarnya. Dengan bantuan pihak keamanan, akhirnya pintu kamar dibuka. Ternyata tubuh mahasiswi itu sudah terbujur kaku. Yang mengejutkan, hasil forensik menyatakan bahwa dia mati karena kelaparan. Bogor bukanlah kota miskin. Di samping tetangga Jakarta, sumber ekonomi Bogor meruah-ruah. Penduduk Bogor juga bukan tergolong masyarakat yang kikir. Lantas, mengapa mahasiswi itu harus wafat menahan lapar?   Menurut teman-teman sesama mahasiswa barunya, dia berasal dari keluarga miskin. Dunia kampus yang begitu megah, bisa jadi memukul dirinya yang teramat miskin. Hingga untuk meminta bantuan kepada teman barunya ia tak sanggup. Barangkali ia begitu malu, meminta bantuan hanya untuk sekadar makan di kampus yang megah. Bayangkan berapa lama ia harus menderita menahan lapar?Saat jadi peneliti itu, ada seorang rekan sebut saja namanya Maralus Marawe. Karena beberapa pertimbangan, tak etis menyebut nama aslinya. Bagi saya ia amat istimewa. Dengan gaji sekitar Rp 100.000 itu, Maralus harus berakrobat. Agar hemat, anak isterinya ditinggal di Flores di tanah tumpah darahnya. Entah bagaimana caranya ia bisa mengunjungi anak isterinya. Tiap berangkat kerja, ia bagi perjalanannya jadi dua babak yakni babak olah raga dan rekreasi. Babak olah raga, dari rumah ke stasiun Depok, ia tempuh dengan jalan kaki. Dari Depok ke stasiun Pasar Minggu, ia tempuh dengan menikmati kereta api. Ini babak rekreasi, katanya. Dari stasiun Pasar Minggu ke kantor yang jaraknya 2 km-an, kakinya berolah raga lagi. Saat pulang ke rumah, babak olah raga dan rekreasi ini diulangi persis. Makan siang di kantor, ia bekali dari rumah. Sungguh terkadang lauknya hanya dicampuri garam. Kuahnya, cukup dibaluri air teh. Ini dikerjakan bertahun-tahun hingga detik-detik terakhir saya keluar dari PNS tahun 1990. Kini sudah tahun 2005. Entah, apakah sekarang Maralus masih bertahan dengan cara how to survive-nya itu.

Rasulullah saw:

Orang miskin itu bukanlah yang diberikan kepadanya sebiji atau dua biji kurma atau sesuap dua suap nasi, tapi orang miskin itu adalah orang yang menjaga kehormatannya

Maralus merupakan satu contoh, bagaimana seseorang menyiasati hidup karena penghasilan yang kurang. Mahasiswi IPB malah mengenaskan karena kelaparan. Tentu masih banyak cerita yang menyesakkan dari para keluarga miskin yang lain. Ada anak keluarga miskin yang tak tahan, akhirnya harus bertindak kriminal. Entah dia jadi maling, penjambret atau merampok bersama teman-temannya. Malah bisa jadi dia terjebak jadi satu mata rantai dari sindikat pengedaran narkotik dan obat-obat terlarang. Itu buat yang laki-laki. Buat anak-anak yang perempuan, cara mempertahankan hidup juga tak kalah getir. Bagi anak-anak perempuan ini, cara termudah adalah menjajakan diri. Dunia pelacuran menjanjikan banyak untuk keluar dari kesulitan hidup.

Kemiskinan harta memang diukur dari ketiadaan materi untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Kemiskinan ini muncul sebagai akibat dari berbagai sebab. Dari rangkaian penyebab itu, secara ringkas dapat dikelompokkan dalam dua faktor yang berbeda, yakni persoalan internal dan eksternal. Dari segi internal, kemiskinan ini akibat dirinya tak bisa memanfaatkan potensi. Bisa karena dia tak berpendidikan, tak punya ketrampilan, tak punya modal atau tak berani ambil resiko. Yang pasti sebagian besar orang-orang miskin sama sekali tak punya akses untuk bisa lepas dari kesulitan hidup. Secara eksternal, bisa jadi kemiskinan tercipta karena persoalan luar menghadang dia untuk bisa mandiri. Mungkin karena persaingan, karena terbatasnya sumber daya, atau mungkin juga karena adanya kecurangan di pihak lain.

Bagi kebanyakan orang, kemiskinan hanya diukur dari ketiadaan uang. Hingga dalam mengukur tingkat kemiskinan seseorang, BPS (Biro Pusat Statistik) pun menggariskan pada KFM (Kebutuhan Fisik Minimum). Standar KFM itu berbeda untuk ukuran kota besar, kota kecil dan pedesaan. Sebagai sebuah alat, KFM telah menjelaskan kondisi kemiskinan. Tetapi sebaiknya jangan gunakan standar KFM sebagai satu-satunya alat pengesah. Kelemahan mendasar KFM terletak pada tolok ukur uang, yang berlaku di seluruh pelosok negeri. Seorang yang tak punya uang, mutlak dianggap keluarga miskin. Coba simak kehidupan di desa. Keluarga yang hidup di desa, tak selalu mengandalkan uang. Beras dan sayuran melimpah di desa. Bila hendak makan ikan dan ayam, juga tinggal menangkap. Jika anak-anak hendak sekolah, cukup dengan berjalan kaki. Bila butuh uang untuk keperluan sakit, mereka jual ayam atau sayur dan buah-buahan. Atau ayam itu jadi alat tukar barter. Jadi di desa uang digunakan hanya dalam kondisi tertentu saja. Dan tak berarti keluarga itu masuk dalam kategori miskin.

Penggunaan sumber daya merupakan modal keluarga desa sebagai kearifan lokal. Secara kondisional, desa bukan tempat perputaran uang. Pusat uang ada di kota-kota besar. Maka standarisasi uang di seluruh pelosok adalah keliru. Penerapan materi tak boleh terpaku pada uang. Ada bentuk materi lain yang nilainya tak kalah dengan uang. BPS harus melihat faktor ini, sebagai kekuatan untuk melihat tingkat kesejahteraan. Jangan melihat miskin tidaknya seseorang, hanya ditentukan berapa besar dia pegang uang. Dengan penerapan standar uang, negeri ini memacu seluruh sektor berlomba dalam mencari uang. Karena ukurannya uang, negeri ini pun pinjam uang untuk mengelola sumber daya alam. Agar mudah mendapat uang, sumber daya alam itupun banyak diserahkan pengelolaannya pada pihak asing. Yang hingga hari ini, masyarakat tak pernah tahu berapa sesungguhnya bagi hasil itu. Bahkan yang lebih tragis, untuk mendapat uang cepat, BUMN sebagai asset negara dijual pada pihak asing.

Text Box: Orang jadi mulya karena kedermawanan, bukan hartanya Orang jadi mulya karena manfaat, bukan ketinggian ilmunya Orang jadi mulya karena ketawaduan, bukan karena telah melakukan ini dan itu Orang jadi mulya karena pengorbanan, bukan karena telah merasa berjasa Orang jadi mulya karena keserderhanaan, bukan karena gemerlapnya penampilan Orang jadi mulya karena bisa menahan diri, ikhlas untuk tak jadi siapa-siapa

Kemiskinan Jiwa – Ilmu - Harta

Tahun 1993 di Yogyakarta saya berkenalan dengan seorang pemuda bernama Umar Budihargo. Saya awal berjumpa, saya terkesiap melihat wajahnya yang bening dan teduh. Yang tak kalah menarik, matanya berkilat-kilat memendam sebuah cita-cita. Yang tentu saja kecuali Allah swt, cuma ia yang paham makna di balik kilatan matanya itu. Ia berasal dari keluarga terpelajar, terhormat, terpandang dan cukup makmur. Kata orang, karena Umar tak pernah terus terang, orang tuanya termasuk dokter bedah pertama di Yogyakarta. Juga punya rumah sakit khusus untuk kebidanan. Saya juga akrab dengan dua kakak iparnya. Yang satu bernama Danarto, sang penyair dan penulis. Ipar yang lain namanya Mukti Asikin. Ipar yang terakhir ini merupakan aktivis LSM. Setelah memimpin PUPUK (Perkumpulan Usaha Kecil), Mukti Asikin jadi konsultan di ADB (Asian Development Bank). Tahun 2005 ini, kabarnya ia ditarik membantu SwissContact.

Hampir semua orang memanggilnya ustadz, saya telah terbiasa menyapanya dengan Mas Umar saja. Begitu lepas SD, ia memasuki dunia baru di Pesantren Gontor. Berbagai kenikmatan di rumah, satu per satu ditinggalkan. Termasuk kepiawaiannya memetik gitar, menggebuk drum dan memainkan jemari di tuts piano. Umar lulus dari Gontor dengan predikat memuaskan. Lantas melanjut ke Madinah, juga lulus dengan amat memuaskan. Untuk S3, Umar melirik Pakistan. Namun beasiswa S3 ia abaikan. Panggilan hatinya membangun lembaga pendidikan tak tertahan. Tahun 1992 Pesantren As Syifa berdiri di Ganjuran Bantul Yogya. Untuk membangun gedung bagi santrinya, Umar langsung menyetir truk, mencari pasir dan mengangkutnya dari kali. Termasuk juga turut kerja menembok bersama kuli-kuli bangunan. Yang membuat terkesiap, untuk keluarganya, Umar hanya membangun rumah berdinding bilik bambu. Kontras, sungguh amat berbeda dengan rumah santrinya yang dari beton. Sekitar tahun 1997, ustadz muda inipun membangun pesantren di daerah Monjali (Monumen Yogya Kembali).

Kisah Umar ini punya nuansa khusus. Berbeda dengan Maralus Marawe yang menyiasati diri bertahan hidup dengan penghasilan kurang. Maralus tak tergoda cari penghasilan lain, apalagi korupsi yang telah jadi kultur birokrasi kita. Sedang mahasiswi IPB yang wafat karena kelaparan, merupakan penggal tragis mengenaskan. Dengan keihklasannya, musibah itu akan menuntunnya jadi syahidah. Bagi keluarga miskin lain yang akhirnya jadi kriminal, pengedar narkoba atau juga melacur, tak lain juga karena kondisi. Resiko yang bakal mereka hadapi memang besar. Tapi tuntutan perut mengalahkan bisikan nurani. Bagi orang miskin, hidup hanya sebatas hari ini. Soal esok bagaimana nanti. Yang penting cari makan dulu. Setelah kenyang baru pikiran boleh menerawang melintas batas.

Semua itu adalah pilihan. Maka anda pilih yang mana: Jadi orang miskin yang sabar, atau orang kaya yang bersyukur? Maralus jelas termasuk orang miskin yang sabar. Ia sabar untuk tak jatuh dalam tindakan salah. Dalam kondisi sabar ini, jika Maralus ikhlas karena Allah SWT, berkahlah hidupnya. Keberkahan itu tampak dari harmonisnya kehidupan keluarga, damai hingga penuh dengan keindahan. Ikhlas karena Allah, merupakan kunci sempurna dalam meraih ketaqwaan. Namun ada juga orang yang sabar karena no choice tak berdaya. Mereka sabar, karena memang tak ada yang dapat dimanfaatkan. Itulah kesabaran semu. Seolah sabar, padahal kondisinya memaksa demikian. Seolah sabar, ternyata itu dipaksa karena terlanjur punya citra jadi orang sederhana. Tanpa sadar, sabar mereka terbentuk karena kepentingan. Bukan terlandasi keikhlasan karena Allah. Sabar seperti ini sia-sia. Hanya mendapat dunia, tak lebih seperti yang dibayangkan.

Mengancik (mengacu) latar belakang Umar Budihargo, tak salah sosoknya dikelompokkan termasuk orang kaya yang bersyukur. Dia bangun travel haji. Tak lain untuk membiayai santri-santrinya yang 80% tak mampu. Padahal jika hanya untuk kekayaan pribadi, buat apa ia bersusah payah. Penghasilan dari travel, bisnis dan pengajiannya telah lebih dari cukup. Tapi ia ingin berbuat lebih apapun resikonya. Kenikmatan hidup baginya bukan di dunia. Juga bukan diukur dari kekayaan materi. Semua itu ia jadikan alat untuk mencapai ketaqwaan. Dan ia telah mulai sejak kanak-kanak, sejak kakinya pertama kali menjejak Pesantren Gontor. Uang yang dicari, sepenuhnya diwakafkan untuk membangun pesantren guna penyiapan generasi berikut. Maka pesantren yang dibangun itu jelas bukan untuk cari kekayaan pribadinya. Jika cari materi, bisakah ia tarik dari santrinya yang sebagian berasal dari kalangan miskin. Di pesantren yang di Monjali, rumah Umar pun hanya berdinding kayu lapis. Entah tripleks atau plywood karena dicat putih. Moralnya begitu kaya. Tak ada keinginan pribadi untuk berharta lebih. Semua itu dikhidmatkan untuk umat.

Dari segi keilmuan, latar belakang Gontor dan lulusan Madinah, menjelaskan posisi keustadzannya. Santri di pesantren yang ia bangun, ribuan jumlahnya yang datang dari berbagai pelosok. Pengajian yang ia gelar, juga dihadiri berbagai kalangan menengah atas. Tutur katanya lembut. Kandungan lafal yang tertutur, begitu dalam maknanya. Ilmu yang ditularkan terus mengalir, memenuhi benak para santri dan pendengar berbagai ceramahnya. Wajahnya yang bening dan teduh, makin indah dihiasi senyum yang terus mengembang. Dalam hal prinsip, sikapnya tak kompromi. Maka tak pernah sekalipun ia bersedia tampil di televisi. Karena moralnya tak mengizinkan dirinya hadir di antara selingan spot iklan seronok dan banyak yang membohongi masyarakat. Umar memang termasuk satu sosok putra terbaik Yogya.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar akan beserta orang-orang yang berbuat baik

(Al Quran surah 29 Al ‘Ankabut –Laba-Laba— ayat 69)

Menarik menyimak perjalanan Maralus Marawe, Umar Budihargo, mahasiswi IPB dan perilaku kriminal anak-anak keluarga miskin. Karakter mereka jadi contoh berbagai perilaku berkait dengan korelasi kejiwaan, keilmuan dan materi. Tiga segi yang saling mempengaruhi. Sulit menentukan mana yang lebih dahulu hadir. Ini sangat kondisional. Ada orang yang memang terlahir dari keluarga beriman kuat. Tapi ada yang menemukan iman belakangan. Iman yang tertanam jadi cerminan jiwa. Juga tak sedikit yang tercerahkan melalui ilmu. Ada pula yang menjadi taqwa, justru saat tak memiliki harta berlebih. Kebaikan yang satu, melahirkan kebaikan di segi lain. Iman yang kuat, akan mengokohkan jiwa jadi makin sehat. Dengan jiwa yang taqwa, harta pun terdudukkan proporsional. Punya harta atau tidak, jiwa yang sehat selalu ingin bersedekah.

Kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain. Berarti keburukan juga akan melahirkan keburukan yang lain. Pada segala hal, kebaikan dan keburukan selalu ada. Konstruktif dan destruktifnya amat tergantung pada proses pembinaan. Keluarga guru akan melahirkan perilaku yang sifatnya cenderung damai dan mengayomi. Berbeda dengan keluarga artis yang selalu ingin tampil beda dan cari perhatian. Berbeda lagi dengan sikap keluarga militer yang akan lebih tegas, keras dan disiplin. Namun itu semua merupakan perilaku. Belum tentu keluarga guru yang lebih tenang, juga mutlak punya kekayaan moral lebih. Tak bisa dipastikan, apakah keluarga militer yang keras juga pasti dzalim kepada si miskin. Dalam saat hening, seorang artis juga pasti akan berpikir keras mengapa selalu ingin menarik perhatian orang. Ada dorongan nurani yang tak bisa ditahan-tahan, untuk mencari atau mengembalikan jati diri.

Manusia memang unik. Perilaku bisa utuh konsisten. Atau juga bisa terbolak balik tergantung kondisi. Kemiskinan harta, jelas punya hubungan sebab akibat dengan kejiwaan dan keilmuan. Boleh jadi pada diri yang tak berharta, jiwa pun terpupuk makin kerdil. Dalam kondisi serba sulit, waktu lebih banyak digunakan cari sesuap nasi. Untuk apa mencari ilmu. Sebaliknya ketiadaan ilmu, justru itulah penyebab tak dimilikinya pekerjaan. Tanpa ilmu, hati dan jiwapun bergolak tak sehat. Siapa berani katakan mustahil, bahwa jiwa tak sehat merupakan sarang penyakit hati. Rasa dengki dan tak suka melihat orang lain sukses, bakal tumbuh subur. Rasa dengki itupun jadi bibit tumbuhnya suatu dendam. Bagi orang miskin, perilaku orang kaya selalu menyakitkan. Kendati tidak ada niat dari orang kaya untuk menyakiti. Rasa dengki ini terus berakumulasi. Beriring dengan kemiskinan yang terus meruyak dan menjadi-jadi, rasa dengki itu kini telah menjelama menjadi “bom sosial” yang suatu saat siap meledak.

Contoh rusaknya jiwa, juga bisa berasal dari keluarga yang kaya. Amati saja karakter yang terbentuk pada keluarga yang ternafkahi harta tak halal, seperti korupsi. Barang tak halal akan mempengaruhi jiwa anggota keluarga. Dampaknya akan berlangsung jangka panjang, yang bakal mempengaruhi perjalan hidup anak-anak mendatang. Dengan harta itu, mereka bisa kirim anak-anaknya menuntut ilmu. Pendidikan terbaik di luar negeri bisa mereka masuki. Namun bagaimana pemanfaatan ilmu itu kelak? Untuk cari nafkah, jangan-jangan ilmu itu digunakan untuk mengelabui masyarakat lagi. Orang tua saja sudah jadi beban dan masalah negara dengan korupsinya. Anan-anaknya nanti, juga cenderung akan jadi beban mendatang. Bahkan mungkin lebih dahsyat.

Pameo tempo ‘doeloe’

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari

Like son like father

Dalam buku Ersazt Capitalism, Yosihara Kunio mengatakan ada 8 penyebab rontoknya ekonomi Asia Tenggara. Satu di antaranya adalah ekonomi pemburu rente. Bisnis pemburu rente hidup di kalangan anak-anak pejabat negara. Cara bisnis pemburu rente ini begini. Beberapa anak pejabat sepakat bergabung membentuk serikat. Singkat kata berdirilah PT Malaga (Mau Elu Apa, Gue Ada). PT Malaga ini siap menampung order apapun dari orang tua mereka. Karena jabatan orang tua berbeda-beda, PT Malaga pun harus sanggup menerima semua order. Bisa mengerjakan order atau tidak, itu soal lain. Order yang diterima, di-sub orderkan-kan lagi pada pihak lain. Yang pasti PT Malaga akan mengambil fee dari order. Besarnya fee, bisa 30% dari nilai total order. Fee inilah yang diburu-buru, sebagai kerja santai tapi penghasilan raksasa.

Rusaknya jiwa, juga bisa berasal dari keluarga kaya yang serba halal. Siklus kehidupan keluarga kaya, kita mulai sejak kelahiran anak. Keluarga kaya tentu makin tak tersentuh bidan. Anak yang lahir, ditangani dokter spesialis kebidanan di RS mewah. Pulang dijemput dan dibawa dengan mobil mulus. Sampai di rumah, kamar bayi pun telah dihias apik. Hadiah-hadiah jangan tanya karena begitu banyaknya. Jika tak cukup satu, baby sitter bisa ditambah. Apapun kebutuhan si kecil dipenuhi segera. Jangan sampai si kecil jatuh hingga menangis. Orang tua bakal marah besar. Masuk play group, TK hingga SLTA merupakan sekolah favorit. Kursus bahasa disiapkan agar segera bisa kuliah di luar negeri. Di USA atau di Eropa, perguruan tinggi terkenal pun dimasuki. Singkat kata anak ini lulus dan segera kerja. Jika kerja di luar negeri, persoalan bisa ternetralisir karena sistem di sana. Bila kerja di dalam negeri, ternyata gaji teramat sedikit dibanding uang saku bulanan. Karena tak tega, orang tua segera membuat perusahaan. Sang anak pun duduk jadi direktur, bahkan langsung melonjak jadi presiden direktur.

Dari segi jenjang pendidikan dan jabatan, perjalanan anak kaya begitu linear. Dari satu sukses, menuju ke tangga sukses yang lebih atas. Tetapi dari segi kejiwaan, apa yang terjadi sesungguhnya. Dari segi halal, bisa dipastikan karena orang tuanya merupakan saudagar kaya. Namun dari segi kethayiban, ternyata kehalalannya tak beriring. Perhatikan sejak lahir, tumbuh balita, sekolah hingga bekerja, sang anak tak pernah terlatih jatuh. Segala sesuatu disiapkan sukses. Padahal dalam setiap kegagalan, ada hikmah yang harus dipelajari. Tiap kegagalan pasti menyakitkan. Yang sukses, pasti berkali-kali jatuh dan harus menyiasati diri agar bisa bangun lagi.

Anak kaya yang terpenuhi segala kebutuhannya, juga tak merasakan betapa sulitnya naik kendaraan umum. Dia tak pernah hirup bau keringat yang bercampur aduk dalam bus. Tak tahu aroma rambut yang dicuci tanpa shampo. Juga tak bisa membedakan mana pakaian bau karena dipakai beberapa hari. Hidungnya tak terlatih mengendusi pakaian kering yang tidak tersengat mentari. Dia sulit membayangkan bisa berdesak-desakan di bus. Tak pernah dia menyiasati diri bagaimana masuk kantor dengan sepatu kotor terinjak, atau coba mengatasi bajunya yang kusut. Juga tak pernah harus berlari-lari menghindari genangan air becek atau hujan yang mengguyur. Dan pernahkah merasakan betapa sakitnya dompetnya dicuri? Padahal kekayaannya tinggal beberapa lembar ribuan saja di dompet itu. Bus, pasar dan kehidupan rakyat jelata, itulah sesungguhnya sebuah hidup.

Artinya apa? Artinya, anak-anak kaya itu merupakan kelompok ekslusif. Anak-anak yang tak pernah sulit ini, sesungguhnya belum jadi bagian utuh dari masyarakat. Mereka belum pernah hidup menderita seperti rakyat banyak. Mereka hidup dengan segala proteksi dan kemudahan. Kegagalan yang mereka alami, dengan segera dicari solusi oleh lingkungannya. Baik oleh orang tuanya, oleh pembantu, oleh supir dan oleh siapapun yang punya kepentingan. Seolah-olah persoalan begitu mudah selesai, dan mereka taken for granted saja. Maka apa yang terjadi jika orang-orang yang hidupnya serba cukup ini, jadi pimpinan kelak? Kebijakan macam apa yang bakal lahir dari orang yang tak pernah susah, serta tak pernah melihat kondisi riel nyata suatu kesulitan.

Coba simak kenaikan BBM pada 1 Maret 2005. Sebelum kenaikan itu, Menko Ekuin mengatakan: ”Rakyat tidak akan terpengaruh, karena harga BBM naik cuma 20%.” Bagaimana mungkin Menko Ekuin bicara begitu ringan. “Jika rakyat tak bisa beli Elpiji, ya tak usah beli Elpiji”. Begitu komentar pejabat setelah kenaikan BBM. Kenapa statemen seperti itu bisa terjadi? Barangkali pejabat kita tak tak pernah jadi rakyat sesungguhnya. Maka kebijakan yang dia ambil sebagai menteri, tentu dilatari perjalanan kemudahan hidupnya. Jika kebijakan itu menyulitkan rakyat banyak, apa boleh buat karena memang pejabat tersebut agaknya tak penah hidup sulit seperti rakyat kebanyakan.

Secara materi, para menteri dan pejabat yang lain, amat berlebih. Mustahil saat ini mereka masuk dalam daftar orang yang miskin harta. Tetapi kebijakan dan komentar itu, jadi cermin miskinnya jiwa. Ilmu yang mereka peroleh boleh tinggi. Tapi ilmu itu juga tak sontak melambungkan kekayaan jiwa dan moral. Mereka pun boleh punya jabatan dan kedudukan yang tinggi. Tapi itupun tak jadi jaminan jiwa dan moral mereka juga tinggi. Yang perlu dicermati, bedakan antara lahiriah dengan batiniah. Jika penampilan lahiriahnya harum dan mentereng, belum tentu jiwa dan moralnya juga mulya. Bila batin yang tak tampak itu baik, mustahil penampilan phisiknya mewah, mahal dan mentereng.

Miskin harta, jiwa dan ilmu memang saling mempengaruhi. Namun dari ketiga kemiskinan itu, mana yang terringan dan paling membahayakan? Tak punya uang, tak sekolah. Berarti pengaruhnya memiskinkan ilmu. Miskin ilmu berpengaruh pada karena tak tersadarkan. Di saat Ramadhan, kuli penggali jalan tak puasa karena harus kerja. Tak kerja tak dapat uang untuk makan. Sebaliknya pemilik perusahaan menunda-nunda shalat karena ordernya puluhan atau ratusan juta. Dzuhur terliwat, Ashar pun tersendat. Magrib tak terdengar, Isya pun sudah kelelahan. Kuli bangunan tak bisa puasa dan shalat karena cari isi perut. Sedang pemilik perusahaan, melalaikan shalat karena tiap detik uang mengalir. Jadi kuli yang miskin dan boss perusahaan, sama-sama melalaikan kewajiban mereka.

Ali bin Abi Thalib ra:

Kefakiran lebih dekat pada kekufuran

Kuli yang miskin, sungguh-sungguh jadi fakir karena tak punya apa-apa. Karena harus kerja untuk isi perut, ibadah pun terbengkalai. Tak pernah mengerjakan shalat dan ibadah lainnya, akhirnya bisa jadi kafir. Sedang pemilik perusahaan, mengabaikan shalat karena takut hilang omset miliaran. Urusan bisnis mengalahkan seluruh kewajibannya. Karena tak lagi shalat, si kaya pun akhirnya bisa jadi kafir. Si kuli yang miskin, jadi kafir karena cari sesuap nasi. Pemilik perusahaan yang kaya, jadi kafir karena omsetnya yang miliaran.

Kemiskinan yang paling ringan, seharusnya miskin harta. Mengatasi orang lapar lebih mudah. Obat lapar adalah makan. Setelah kenyang, jiwa lebih mudah dibentuk. Sedang kemiskinan terberat adalah miskin jiwa. Apa obat jiwa? Di tangan orang yang rusak jiwanya, ilmu akan makin berbahaya. Di hati orang yang tamak, ilmu akan dimanfaatkan untuk kepentingan sendiri. Tak peduli apakah tindakannya merusak tatanan masyarakat. Orang yang tak pernah merasakan dan berempati pada masyarakat banyak, akan punya kebijakan yang menyulitkan kehidupan rakyat banyak. Di tangan para pejabat ini, berbagai kebijakan akan merusak keutuhan negara. Berbagai asset negara dijual. Sumber daya alam diserahkan pada asing untuk dieksplorasi dengan bagi hasil yang tak pernah transparan. Seorang kuli bangunan yang lapar, tak akan sanggup menjual rumah dan isinya. Tapi seorang pejabat yang miskin jiwa, sanggup dan terbukti telah menjual negara.

Dan bila dikatakan kepada mereka:

“Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”

(Al Quran surah 2 Al Baqarah –Sapi Betina— ayat 11)

--o0o--


Zakat, Cermin Sebuah Ego

⊆ 17:24 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 0 komentar »

Membenahi tradisi yang buruk bukan perkaran mudah. Pertama, cermatkah mengungkap yang keliru. Kedua berani tidak berbeda sikap dengan kebiasaan masyarakat. Ketiga yakinkah hingga konsisten mengusung pendapat. Keempat beranikah merubah kekeliruan itu. Dan kelima bisakah mengkritisi dengan cara yang maruf hingga tak menimbulkan gempa bumi. Zakat jadi satu contoh dari sebuah pergolakan meretas kekeliruan. Buruknya tradisi zakat, sebagian ditandai dengan pengelolaan setengah hati, tidak transparan, tak mengenal sistem akutansi dan pemberdayaannya lebih kental bagi-bagi uang. Entah apakah karena itu zakat tetap terbenam. Kelas menengah ke atas asing dengan zakat. Bukan hanya menganggap sebelah mata, bahkan terkesan emosional saat bersentuhan dengan sedekah. Zakat akhirnya terus tercampak. Karena hanya hidup di pelosok-pelosok atau di kelas marjinal, sulit berharap zakat bisa membawa perubahan sosial.

Zakat memang terlanjur dicap kampungan. Dalam benak para elite pejabat, tak mungkin sesuatu yang kampungan bisa diagendakan dalam rapat kabinet apalagi diusulkan sebagai satu kebijakan negara. Padahal esensi zakat tak beda dengan pajak. Bukankah zakat merupakan pajak kalangan muslim. Pada saat negara dibelenggu oleh berbagai problemnya, ZIS dan wakaf telah tampil menghidupi berbagai aktivitas, seperti pendidikan untuk rakyat berpuluh-puluh tahun lamanya. Lepas dari segala kekurangannya, bagaimanapun zakat terbukti telah memainkan peran fungsi dan tugasnya.

Sebelum isu terorisme ditiup Barat, mungkin para elit negara khawatir ditertawai bicara zakat. Kini dengan isu teror dimana-mana, zakat pun makin mati angin. Bicara zakat di forum resmi negara, cenderung bakal menuai badai. Jika tak dicap pendukung terorisme, pejabat mana yang siap dituding penebar Islamisasi. Problem zakat bertambah. Awalnya, muslim yang sukses jadi pejabat atau pebisnis, merasa malu mengusung zakat. Kini rasa malu itu sempurna dibungkus isu terorisme. Siapapun muslim yang sukses kini berpikir ulang. Menuaikan zakat dan sedekah, kini identik dengan mendukung gerakan terorisme. Pasokan ZIS otomatis mulai terhenti. Beberapa lembaga dakwah dan pendidikan di Indonesia yang mengandalkan dana Timur Tengah limbung.

Yang harus disyukuri, tak semua masyarakat jadi pejabat. Karena itu kehidupan zakat pun masih tetap eksis. Seolah masyarakat tak perduli pada isu terorisme. Yang khawatir tentang teror kan para elit. Bagi rakyat mati dimanapun sama saja. Rakyat tak meninggalkan apa-apa, apalagi kursi dan jabatan. Jadi kenapa harus repot-repot memikir isu yang terus meruyak. Jika memang Islam tertuduh, mengapa bom dan bentuk perusakan pada masyarakat tidak terjadi sejak Rasulullah saw mengenalkan Islam. Coba simak, yang menjajah negara-negara di Asia dan Afrika siapa? Lantas siapa pula yang mendisain globalisasi?

Kemiskinan adalah sebuah produk. Sebagian orang bilang bahwa negara yang kaya sumber minyak seolah dapat kutukan. Indonesia contohnya. Provinsi yang kaya minyak justru memiliki penduduk miskin yang tinggi. Dengan eksploitasi 1,1 juta barel per hari, Riau memasok 70% minyak Indonesia. Namun dalam daftar kemiskinan, Riau merupakan propinsi ke-13 termiskin. Sementara NAD dengan kekayaan gas dan minyak, menduduki peringkat ke-4. Propinsi Papua dan Kaltim juga masuk dalam daftar daerah miskin. Kemana larinya sumber rezeki yang meruah-ruah itu.

Tentu itu bukan kutukan. Ini merupakan produk dari suatu kebijakan. Entah apa yang ada dalam benak para penandatangan kesepakatan ekspolitasi oleh pihak asing. Kini lihat kesejahteraan perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber-sumber minyak itu. Jangankan para pemiliknya, pegawainya saja hidup di atas kecukupan. Dalam waktu satu tahun bekerja, rumah yang nyaman pun bisa dimiliki. Lantas perhatikan pula di haji plus, sebagian besar pasangan muda yang pergi haji merupakan karyawan perusahaan minyak.

Mereka yang bekerja jelas tak salah. Jika minyak itu untuk kesejahteraan bangsa, bukankah kondisi fakir miskin tak melarat-larat amat. Yang tengah kita gugat, kebijakan macam apa yang dihasilkan. Perhatikan saham-saham pemerintah di berbagai perusahaan minyak asing. Karena minoritas, pemerintah Indonesia kelabakan saat PIM (Pupuk Iskandar Muda) dan Asian Fertilizer megap-megap tak dapat pasokan gas. Kabarnya dua perusahaan di Lhokseumawe NAD ini akan dilego pemerintah. Tahukah siapa calon pembeli kuatnya? Ternyata perusahaan asing yang harusnya bertanggung jawab atas pasokan gas pada dua perusahaan itu. Contoh lain, saham pemerintah di Freeport sekitar 10%. Jika benar, itu peanut seperti bayar pajak atau zakat saja. Sementara di Freeport itu, ada sebuah perusahaan gamping yang dimiliki seorang menteri di masa Orba. Dengan terkejut saya bertanya apa modalnya. Yang mengantar hanya mengangkat bahu.

Globalisasi ini menarik. Suatu high design of the new colonialism. Wajah bengis kolonial, diubah kemasannya dalam wujud profesionalitas. Dengan bingkai globalisasi, bicara penjajahan kini bicara visi, strategi, leadership dan entrepreneur. Siapa yang enggan merangkum itu semua, jelas tak bakal masuk dalam the western dream. Padahal esensinya jelas dan tegas. Globalisasi memangkas peran pemerintah negara dunia ketiga untuk campur tangan dalam ekonomi. Kekayaan negara dianjur paksa untuk diprivatisasi. Padahal simak simak istilah privatisasi. Asal katanya adalah privat, artinya pribadi. Maka bayangkan kekayaan bangsa dalam bentuk sumber daya alam, kini diekspolitasi pribadi yang sebagian besar asing. Apa bedanya dengan masa kolonialisasi Hindia Belanda dulu. Lantas kekayaan negara negara dalam BUMN dan BUMD, pun telah jatuh ke tangan mereka.

Jangan lupa alat globalisasi paling canggih adalah utang. Guyuri utang sebesar-besarnya hingga tak kuat membayar. Dan sedari awal, negara ini pun dibangun dengan kebiasaan utang. Siapa yang berutang tergadailah hidupnya. Jika tak punya apa-apa untuk membayar, siap-siaplah jadi budak. Jika punya kekayaan, sampai kapan mampu melunasi. Sumber daya alam ada batasnya. Maka Indonesia yang kaya raya jadi negara gharimin. Indonesia punya sumber daya. Namun nyaris semuanya dieksploitasi asing. Kelak dalam pelajaran geografi, bakal ada bab yang isinya: ADA SUMBER DAYA ALAM YANG CUMA NUMPANG TEMPAT. SEBAB SEBAGIAN BESAR KEKAYAAN ITU, DIEKSPLORASI UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI TEMPAT LAIN.

Dalam konstelasi zakat, Indonesia masuk asnaf yang mana. Gharimin, kalangan yang punya utang, tampaknya tidak. Sebabnya jelas, Indonesia bukan hanya kaya melainkan teramat kaya. Dalam pemahanam zakat, gharimin yang dibantu adalah pihak yang terpaksa berutang. Kalangan ini memang tak punya sumber daya. Karena hidup harus dipertahankan, terpaksa salah satunya dengan berutang. Dengan utang, kehidupan besok belum tentu membaik sementara hidup sudah tergadai. Apa boleh buat. Meski bagai buah simalakama, utang merupakan ikhtiar. Siapa tahu besok akan ada yang berubah. Kendati esok tak juga berubah, namanya juga ikhtiar. Dalam kondisi begini, zakat memang jadi satu solusi tepat. Sebagai jaminan sosial, zakat jadi sah untuk menyelamatkan kehidupan esoknya.

Tetapi orang kaya yang gemar berutang jelas sebuah tragedi. Dalam konteks zakat, ini tak termasuk dalam asnaf gharimin. Itulah Indonesia yang tak berani berikhtiar di atas kaki sendiri dengan segala kendala. Indonesia bukan bangsa bodoh. Sebab bangsa ini telah mengirim puluhan ribu putra-putra terbaik mengenyam pendidikan di luar negeri. Berapa banyak jumlah doktor, akademisi, pengajar dan peneliti kita. Berapa banyak jumlah pebisnis kita. Berapa banyak ustadz dan ulama kita yang mengabdi pada masyarakat. Kita punya semuanya. Namun seperti orang Malaysia bilang, yang kita tidak punya adalah pemimpin yang baik. Tentu harus ditambahkan tegas, adil dan benar.

Karena tak ada pemimpin yang berani, semua kekayaan dan potensi seolah tak berarti. Siapapun paham berjuang untuk kepentingan bangsa jelas sulit. Tetapi bukankah mengikuti keinginan asing juga tak kalah sulitnya. Entah, meski berdasi tampaknya mental inferior kita masih saja silau oleh mereka yang bule. Di antara kita tampaknya makin kental orang yang hanya berpikir pendek dan untuk kepentingan pribadi sendiri. Kitapun selalu berprasangka baik pada asing. Padahal Soekarno bilang, ingat jasmerah --jangan lupa sejarah. Kolonialisasi telah terjadi berabad-abad lamanya. Perbudakan pun telah berlangsung lama, yang warisannya masih terasa di sana sini. Prasangka baik adalah baik. Namun untuk kepentingan bangsa, prasangka buruk pun sah-sah saja. Seperti yang Rasulullah saw pesankan, semua memang tergantung niatnya. Maka terjemahkan sudzon itu dalam bentuk kewaspadaan.

Pemimpin dan sikap kita adalah soal internal. Globalisasi adalah soal eksternal. Bom dan teror tak jelas siapa yang bermain. Tetapi kini terlanjur dicap pada kalangan muslim. Sementara globalisasi seolah-olah penebar kedamaian dan kesejahteraan. Simak, mungkinkah bom dan terorisme memiskinkan pihak lain? Bisakah terorisme meremukan sebuah bangsa? Jawabnya mungkin saja. Namun lihat dampak globalisasi. Berapa banyak negara yang jadi miskin. Lantas berapa negara telah terampas masa depannya. Bicara teror adalah bicara kemungkinan, sementara bicara globalisasi telah terbukti akibatnya. Kita sendiri merasakan betapa makin sulit hidup ini. Lantas bisakah kita tetap terlelap sementara problem generasi berikut menumpuk-numpuk akibat ulah kita. Mereka harus menyelesaikan problem dahsyat yang kita wariskan. Dimana moral kita?

Dalam hal terkecil, moral ini bisa kita telusuri di bulan Ramadhan. Dalam hal zakat, jangan tunaikan zakat harta selalu di Ramadhan. Di bulan ini perbanyaklah infak sedekah. Sedang zakat harta harus dikeluarkan sesuai dengan haul atau jatuh temponya. Jika ditepatkan di Ramadhan, itu berburu pahala namanya. Dengan memburu pahala, bukankah itu ego pribadi. Maka moral pun bisa menimbang: Kejar pahala atau penuhi hak kalangan miskin di luar Ramadhan. Memenuhi hak fakir miskin jelas mulya. Namun mengejar pahala tetapi menyulitkan fakir miskin di bulan-bulan lain, bisakah memantik ridho Allah swt? Wallahu’alam jawabnya.

Merubah tradisi jelas tak populer. Tradisi mengeluarkan zakat harta di Ramadhan adalah sebuah kekeliruan. Jika kita tak berani merubah, jangan harap kita bisa cakap memandang persoalan besar yang menghadang bangsa. Ini ego pribadi. Atas nama agama, kita kedepankan kepentingan pribadi dan kita abaikan hak fakir miskin. Kita tak paham arti bermasyarakat. Sama seperti yang dihadapi para petinggi negeri ini. Mereka tak paham arti berbangsa. Mereka bangun negeri ini berkerja sama dengan pihak asing. Hanya karena ego pribadi, rencana untuk memberi kesejateraan bangsa jadi remuk.

Ego pribadi terbukti telah jadi peremuk. Kini terlampau banyak problem yang menjerat. Tinggal satu jawabnya: BERBENAHLAH. Mulai dari diri sendiri. Gugat dari soal zakat yang cuma 2.5%. Tunaikan zakat harta sesuai haulnya. Di Ramadhan ini, perbanyak infak sedekah yang bisa lebih dari 2.5%. Zakat telah diwajibkan bahkan ditegaskan sebagai satu Rukun Islam. Inilah keputusan ekonomi politik dan sosial paling penting di dalam Islam. Jika tak juga berubah, jangan harap kita bisa memaknai keputusan penting itu. Kekeliruan tradisi pengelolaan zakat, telah mencabik-cabik kehidupan umat Islam. Padahal zakat sarat dengan rahmatan lil’alamin.

Agustus 2005


BMT Center (Bagian 2)

⊆ 17:22 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 1 komentar »

BMT Centre telah terdeklarasi 15 Juni 2005. Arahnya memang jadi sebuah forum. Sebagaimana galibnya, forum seharusnya menampung seluruh BMT tanpa terkecuali. Sementara yang hadir dalam deklarasi merupakan BMT yang berasset di atas 3 miliaran rupiah. Sudah tentu BMT di bawah itu tak bisa tertampung. Timbul pertanyaan, apakah BMT di bawah asset itu harus juga membentuk forum sendiri? Jika ya, apakah forum kedua yang dibentuk ini menampung seluruh BMT atau hanya membatasi diri bagi BMT berasset antara 1 sampai 3 miliar misalnya? Jawabnya yang bisa ya atau tidak, tentu amat tergantung sikon.

Bola Liar

Dari deklarasi BMT Centre di atas, ada beberapa catatan menarik. Catatan utama, harus jujur diakui bahwa thinktank belum menguasai betul konsep dan arah tujuan BMT Centre. Akibatnya siapa bisa cegah gagasan itu pun telah menggelinding sebagai “bola liar”. Soal penguasaan konsep sesungguhnya bicara tentang waktu. Artinya seiring perjalanan waktu, konsep pun akan jadi sempurna karena pasti ada perbaikan dan pembenahan. Sebetulnya kelemahan konsep itu bukan terletak pada content apa isinya, melainkan pada ketidayakinan. Karena tak yakin, beberapa pertanyaan muncul. Pertama apakah konsep tersebut baik atau tidak. Kedua berapa banyak kira-kira BMT yang mau bergabung di dalamnya. Ketiga jangan-jangan konsep ini malah bakal menuai masalah.

Konsep baik atau tidak, soalnya jadi relatif. Keraguan ini harusnya tak muncul mengingat penggagas di belakangnya bukan orang yang asing dengan dunia per-BMT-an. Karena tak yakin persoalan berkembang jadi lebih luas. Pemangku utama BMT Centre yakni Dompet Dhuafa (DD), akhirnya pun jadi setengah hati akan sosok yang digagas. Sementara bagi thinktank, arahan DD sangat dinanti-nanti sebagai landasan berpijak. Apa yang dikehendaki DD, jadi rambu yang jelas kemana visi itu hendak dilabuhkan. Namun yang diharap-harap mungkin tak kunjung tiba, sedang waktu deklarasipun sudah dijadwal. Pepatah lama tak ada rotan akarpun jadilah jadi pamungkas. Waktu terus berjalan, akhirnya gagasan BMT Centre tetap harus digulirkan. What ever will be, will be-lah.

Kelompok IGGI dan Kelompok G-7 dibentuk dengan tujuan jelas. Hendak menjadi lembaga donor bagi negara yang membutuhkan dana. IGGI bahkan jadi forum yang hanya bertugas untuk mendanai Indonesia. Yang musti dicatat, negara-negara donor ini membetuk forum agar peran mereka tidak tabrakan saat membantu negara lain. Jelas ini bicara kepentingan, yang antara ekonomi dan politik tidak bisa dipisahkan. Untuk itu mereka buat aturan main agar tak terjadi benturan. Jelas, terarah dan ada target yang hendak dicapai.

Sementara BMT Centre, masih tak jelas arahnya ke depan. Sebagai forum agaknya tidak. Ini tampak dari BMT yang boleh hadir hanya yang punya asset di atas 3 miliar. Dengan pembatasan asset sebagai satu kriteria, sesungguhnya ada sesuatu yang hendak diraih. Setidaknya diharap BMT raksasa ini bisa memberi contoh bagi BMT gurem yang belum berkembang maksimal. Jika sedari awal BMT Centre digagas sebagai forum, tentu yang diundang tak terbatas. Masih banyak BMT dalam jejaring DD yang assetnya di bawah 1 miliaran. Bicara forum adalah bicara hak semua anggota. Namun bicara jatah, jelas itu milik yang mampu saja. Lalu bicara forum terbatas, ekslusif dan hanya papan atas, apa sesungguhnya yang dituju? Mungkin tak satupun ada yang bisa menjawab. Gagasan awal BMT Centre memang terlanjur telah jadi bola liar.

Ibarat main bola sungguhan, bola jangan hanya digoreng kesana sini. Bahkan jangan ragu saat akan menjebol gawang lawan. Ragu sedetik, lawan segera menutup seluruh celah. Menaklukan bola liar sebenarnya juga mudah. Siapa yang tegas bersikap, akan mengambil alih peran. Apalagi jika sikap itu dilandasi dengan sebuah konsep. Itulah yang terjadi. Agaknya penggagas BMT Centre masih ragu, yang akhirnya harus mau berbagi peran. Padahal pihak yang menuntut peran, belum tentu sungguh-sungguh mau memainkan perannya. Maka jangan kecewa jika gagasan itu akhirnya jadi mentah lagi. Sebab siapa bisa yakini, bahwa semua pihak punya visi yang sama.

Sifat Forum

Berubahnya gagasan, punya dampak sangat signifikan. Gagasan yang lepas, bisa mewujud jadi lembaga yang belum tentu bisa dipahami karakternya. Inilah yang harus disadari oleh operator di belakangnya. Lembaga berbentuk forum, punya karakter tersendiri. Forum ibarat terminal. Siapapun boleh datang dan pergi. Yang aktif tiap hari datang, tak lebih istimewa ketimbang anggota yang pasif. Yang aktif dapat mengembangkan diri karena inisiatifnya, bukan karena forum itu bisa memberi sesuatu. Forum milik semua orang, tak ada yang boleh dominan. Anggota punya hak yang sama, tak bisa ada yang merampas. Forum pun harus adil, berdiri di atas seluruh kepentingan anggota. Forum yang hidup di kalangan Melayu, harus berazas berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Tak ada yang boleh lebih populer, lebih cakap dan lebih kuat.

Masyarakat Melayu belum teruji kedewasaannya dalam membentuk masyarakat sipil. Hak dan kewajiban terbalik-balik. Wewenang dan tanggung jawab pun campur aduk. Dengan kondisi begini, forum dengan tuntutan kelembagaannya jadi tergadai. Yang akhirnya hidup matinya forum tergantung pada siapa di belakangnya. Bukan tergantung pada seharusnya lembaga ini hidup. Sedang anggota yang lain, belum tentu peduli. Atau segera mengucap beribu-ribu terimakasih kepada pihak yang amat serius mengurusi forum. Meski barangkali forum itu hidup sesuai dengan selera pengurus, yang tak lagi berdiri dan semakin menyimpang di atas azasnya.

Forum hanyalah lalu lintas keluar masuknya anggota. Jikapun aturan ditegakkan, siapa yang bisa memberi sanksi pada anggota. Sanksi selalu kandas dan jadi bahan gurauan anggota. Forum hanya indah di saat-saat pertemuan. Yel-yel yang membahana memang membakar. Namun hanya di saat perhelatan itu masih berlangsung. Namun setelah ajang pesta usai, kesadaran pun muncul. Seolah seseorang baru terbangun dari lelapnya tidur, apa sebenarnya yang terjadi, kemana arah lembaga ini dan apa targetnya. Gugatan muncul sementara lembaga baru telah terbentuk.

Forum biasanya diurus oleh orang-orang penting dan yang punya kesibukkan luar biasa. Bahkan sering juga forum diurus oleh orang-orang yang tempat tinggalnya berjauhan. Hingga untuk mengadakan pertemuan, harus berjuang habis-habisan hanya untuk sekadar konfirmasi. Padahal pada saat pertemuan berlangsung, yang tadinya sudah konfirmasi ternyata juga tak bisa hadir. Bahkan yang hadirpun ternyata tak sungguh-sungguh. Jika tak serius bicara, segera meninggalkan tempat karena ada janji lain. Forum hanyalah sekadar forum. Terkebiri karena fungsi forum memang seperti terminal. Orang keluar masuk dengan leluasa, yang tak bisa dicegah oleh siapapun.

Forum tak bisa menghasilkan apa-apa. Jikapun mengeluarkan deklarasi, akan diseriusi oleh anggota dengan kelompoknya. Jarang sekali deklarasi itu ditujukan untuk kebesaran forum. Forum dianggotai oleh berbagai lembaga, yang masing-masing punya visi dan misinya. Biar bagaimanapun tiap anggota akan mementingkan kelompoknya ketimbang visi misi dan tujuan forum. Forum sering terkhianati oleh anggota. Info yang diperoleh dari forum, akan dibawa anggota kepada kelompoknya. Yang cilakanya jika pengurus forum adalah pejabat teras dari lembaga anggota, maka kepentingan lembaga cenderung didahulukan.

Sebagai terminal, forum pun jadi tempat bertemunya beragam isu. Bahkan boleh jadi di forum itu isu jadi matang. Maka forum pun bisa jadi sumber yang melahirkan berbagai isu penting. Karena itu forum pun jadi tempat bertemunya berbagai kepentingan. Terkadang kepentingan itu tajam terasa yang berakhir dengan benturan dan konflik. Namun sering juga yang dikhawatirkan ternyata tak terjadi. Karena sifatnya forum memang tak bisa memberi lebih pada anggota. Maka yang sudah jadi sejarah bangsa ini, hampir seluruh forum mati diam-diam. Pengurusnya lelah mengurus sesuatu yang tak mampu memberi lebih. Anggota pun lebih mementingkan kesibukkannya ketimbang forum. Forum punya tradisi sendiri, yakni dibentuk untuk mati. Indah saat dibentuk, dan memang cukup sampai di situ. Karena bersamaan dengan waktu, pengurus dan anggota sama-sama undur diri.

Waktu yang nanti akan mempertegas sejarah perforuman. Apakah BMT Centre bisa tetap eksis, atau juga berakhir diam-diam. Kini tinggal DD. Hendak diarahkan kemana BMT dalam jaringan DD? Mengharap BMT Centre yang telah berbentuk forum, jelas mustahil. Sebagai forum, DD tak boleh mementingkan diri sendiri. Memaksa diri melalui BMT Centre, jelas ini pengkhianatan pada anggota yang lain. Maka di samping BMT Centre, masihkah DD mau berlelah-lelah memajukan BMT jejaringnya? Jawaban DD adalah sebuah cermin. Di sini DD harus bisa membuktikan, apakah DD punya visi atau tidak.

Banda Aceh


BMT Center (Bagian 1)

⊆ 17:20 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 0 komentar »

POSISI

Jumlah BMT (Baitul Maal wat Tamwil) kini telah mencapai ribuan. Untuk menghitung secara akurat lembaga keuangan mikro ini, insya Allah sulit dilakukan. Ada beberapa alasan yang jadi penyebab. Pertama tak sedikit BMT berdiri di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Segment market BMT yang lapisan bawah, memaksa BMT harus siap beroperasi di tempat yang kadang ada kadang tidak alias tergusur. Tempat terbaik lapisan bawah, itulah di wilayah terpencil, di sudut kumuh atau di tempat yang tidak business like. Kedua banyak juga BMT yang sudah tutup kantor. Karena tutup siapa peduli untuk melapor keberadaan mereka. Di samping jika harus melapor, kemana mereka musti melayangkan surat bangkrutnya. Ketiga ada BMT amatiran. Kadang-kadang ada tempo-tempo lenyap. Kadang ikut dalam pertemuan BMT, eh di pertemuan simpan pinjam konvensional juga nongol. Keempat ada juga BMT “jejadian”. Artinya ada beberapa pihak seperti rentenir, mencoba menyesuaikan kiprahnya sesuai syariah. Soal pas atau tidak, itu masalah lain. Yang pasti BMT jelmaan rentenir ini mustahil mau menyambung silaturahim dengan BMT aseli.

Pertumbuhan BMT memang tak dapat dicegah. Dan memang untuk apa dicegah. Berarti ambruknya banyak BMT juga tak dapat dicegah. Sementara jika ada BMT yang berpraktek seperti rentenir juga sulit dideteksi. Untuk mencegah praktek seperti ini juga sulit dilakukan. Standarisasi BMT memang belum terformulasi dengan layak. Banyak pihak yang mencoba menerapkan standar BMT. Namun kebanyakan selalu terjebak dalam jargon dan yel-yel tanpa ujung pangkal. Maunya profesional, ternyata dalam tiap pertemuan hanya bicara tentang daftar harapan, tantangan dan kendala. Lantas pertemuan pun diakhiri dengan deklarasi. Isi deklarasi tak lebih dari amar maruf, sekadar anjuran untuk bersatu, memperbaiki diri dan memerangi ketidakadilan. Setelah deklarasi, sedikit yang sungguh-sungguh mau ber-nahi mungkar.

Nahi mungkar utama, dari sekian ribu BMT di Indonesia adakah meski cuma satu BMT yang mau mengkoreksi tentang konsep kesyariahannya? Dalam buku Bank Islam yang Tidak Islami, Zaim Saidi, menegaskan bahwa praktek lembaga keuangan syariah tidak sesuai dengan prinsip syariah. Pernyataan Zaim sudah terbukukan. Yang meresahkan tentu bukan hanya buku tersebut, melainkan tak ada satupun respon dari para praktisi. Baik dari perbankan umum syariah, BPR Syariah, BMT dan anggota pengawas syariah. Jika Zaim yang memang keliru, wajib bagi yang paham harus menunjukkan kesalahan isi buku itu. Sebaliknya tak ada satupun tanggapan, apakah jadi tanda bahwa indikasi Zaim mendekati kebenaran.

Lepas dari subtansi konsep, BMT telah mengangkat wajah umat Islam. Artinya secara kelembagaan, umat pun mampu merealisasikan tuntutan profesional dalam sebuah sistem. Sebelum BMT lahir, bicara lembaga keuangan kecil selalu diskusi tentang KSP (Kelompok Simpan Pinjam) yang dibentuk LSM atau NGO. Sudah sejak tahun 70-an KSP ini berkiprah. Jadi jangan tanya jatuh bangun dan asam garam kedewasaan mereka. Namun BMT yang muncul di pertengahan 90-an, kini sudah ribuan jumlahnya merebak di hampir seluruh Indonesia. Saat ini BMT bukan lagi tandingan KSP. Beberapa BMT papan atas, assetnya sudah di atas Rp 20-an miliar. Ini angka fantastik. Dari sekadar KSP, sebagian BMT menyamai BPR dan bisa jadi bakal melebihi BPR.

Istilah KSP kini sudah mulai memudar. Diganti micro finance yang dirancang berbagai lembaga besar dunia. Konsep, sistem dan training sosialisasi serta penyiapan SDM untuk micro finance demikian berkembang. Hampir-hampir tak ada satupun NGO yang tak punya program micro finance. Sementara BMT di-back up lembaga lokal yang cenderung setengah hati. Awalnya lembaga penginisiator ini begitu semangat. Namun berangsur padam melihat problem dan kendala yang membentang. Apa boleh buat, sembari mencari induk semang, BMT harus menyelesaikan problemnya sendiri di lapangan. Jika lembaga micro finance makin canggih, sebaliknya BMT terus terjebak dalam kondisi darurat. Bila lembaga micro finance bisa jadi lembaga pressure, sebaliknya untuk tampil PD masih jadi kendala BMT. Padahal dari sisi konsep, BMT step ahead. Dari sisi praktek, secara kultur BMT langsung akrab dengan masyarakat. Hanya metode dan back office yang masih jadi sebagian problem.

Tantangan besar BMT sekarang datang dari bank umum. Tiba-tiba saja melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP), Bank Danamon turun mengambil pasar kredit yang Rp 25 ribuan. Bayangkan bank kelas kakap yang kini dimiliki konglomerat Singapura, juga mengambil sisa-sisa kue yang tercecer dan yang berjatuhan di sudut-sudut becek dan kumuh di pasar tradisional. Bank ini tidak salah. Namanya pengusaha, apapun akan diusahakan jadi uang. Yang keliru adalah kebijakan negara. Mengapa negara tidak tanggap bahwa rakyatnya yang jelata dan tak punya kekuatan, dibiarkan digebuk habis-habisan oleh bank besar yang sudah go public. Mengapa BI sebagai regulator dan wasit, membiarkan asuhannya yang besar dan kuat mencabik-cabik siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Inilah yang dinamakan “Negara yang Mematikan Rakyatnya”.

Dari sisi politik, BMT juga harus pandai menyiasahi diri agar tak tertuding sektarian ekstrim. Bagi kalangan luar, muslim yang ingin menerapkan prinsip syariah dianggap berbahaya. Bagi mereka itu bukan hak, melainkan sekarang ini mengarah jadi teroris. Maka di awal kebangkitan koran Republika, seorang pensiunan jenderal yang sudah gaek mengatakan: “RepublikA dengan A besar adalah Republik Agama. Perhatikan disitu ada Dompet Dhuafa, dan Dompet Dhuafa mengembangkan BMT-BMT. Waspadai pergerakannya di masa datang”.

SILATURAHIM

Dengan segala persoalannya, BMT toh tetap berkembang. Ada yang pesat serta pasti lebih banyak yang tersendat. Yang pesat mampu menoreh asset di sekitar Rp 30-an miliar, sedang yang tersendat masih di angka kurang lebih Rp 100 juta meski telah berusia hampir 10 tahun. Ada BMT yang butuh pengembangan SDM tahapan advance, namun ada juga BMT yang masih butuh pendampingan. Ada direktur BMT yang sudah bercita-cita jadi Menteri Koperasi dan UKM, tapi tak sedikit di antara direktur sama sekali tak punya jiwa leadership. Itulah faktanya. Lembaga grass-root yang sebagian tumbuh dengan tidak menghiraukan berbagai persyaratan. Proses alaminya benar-benar diserahkan pada keramahan alam. Yang pasti dalam tahap awal kelahiran, bagaimana caranya BMT harus bisa eksis. Setelah itu babak perbaikan diri dilakukan bersamaan dengan berjalannya waktu. Maka jika ada dari lembaga grass-root ini tumbuh baik, berarti SDM-nya sungguh-sungguh teruji. Tinggal bagaimana menempatkan agar lebih bermanfaat.

Pada 15 Juni 2005, Dompet Dhuafa (DD) mengumpulkan sejumlah BMT yang berasset di atas Rp 3 miliaran. Hadir sekitar 70-an BMT yang ditinjau dari sisi asset merupakan para raksasa BMT. Para pengelolanya bukan lagi anak-anak lugu seperti saat pertama mengenal konsep BMT di awal training dulu. Kini mereka merupakan macan-macan yang siap menerkam. Meski tampilan tenang, mereka tak bisa diam jika soal keuangan mikro dikupas. Ini adalah potensi besar. Apakah akan disinerjikan jadi kekuatan yang bakal mem-back up perkembangan small medium entreprises? Atau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat, kepentingan bisnis jangka pendek dan kepentingan politis.

Di Indonesia ada beberapa lembaga pengayom dan pendorong BMT. Pertama lembaga yang melahirkan BMT Bina Insan Kamil sebagai BMT pertama di Indonesia. Entah apakah lembaga ini masih eksis hingga hari ini. Kedua adalah DD yang menggelar diklat pertama BMT di September 1994. Ketiga adalah Pinbuk yang telah mensosialisasi BMT ke hampir seluruh Indonesia. Keempat PNM kini juga telah menyisipkan BMT jadi salah satu core business-nya. Kelima BMM (Baitul Maal Muamalat) juga mengambil BMT jadi salah satu bidikan utama. Di luar lembaga-lembaga ini, barangkali masih ada yang lain yang belum terdeteksi.

Biasanya masing-masing BMT hadir dalam acara yang digelar jejaringnya. Jika pun ada pertemuan lintas BMT, hanya dilakukan secara sporadis di arus bawah. Karena pertemuan arus bawah, keputusan apapun yang dibuat kerap tak bisa jadi sebuah kebijakan besar. Maka pertemuan di 15 Juni 2005 itu jadi penting. Karena diselenggarakan oleh DD, lembaga yang punya reputasi panjang untuk mendorong kemandirian berbagai asset lembaga masyarakat. Untuk meyakinkan perlunya kebersamaan, sebelumnya pejabat teras DD harus sowan kepada pihak terkait.

Ditinjau dari sisi silaturahim, pertemuan itu baik-baik saja. Namun kultur Melayu punya logikanya sendiri. Silturahim itu sering jadi tak produktif. Keterpisahan dan konsentrasi, selalu tertuduh ingin kerja sendirian dan tak mau bekerja sama. Padahal agar bisa profesional, manajemen menuntut fokus dan eksplorasi bidang yang digeluti habis-habisan. Mustahil BRI, BNI, BCA, BII dan Danamon bekerja dalam satu payung. Mereka konsen untuk melahirkan lembaga keuangan sesuai dengan keunikannya. Jangan ingkar sunnah dengan menyatukan keragaman. Biarkan bunga mekar dengan warna warninya masing-masing di taman. Ada yang merah, kuning dan putih. Sudah terbukti taman yang didominasi karena dipaksa harus berwarna kuning semua, telah memangkas kekuatan keragaman itu. Keragaman ini amat dibutuhkan mengingat Indonesia terdiri dari berbagai suku, adat dan kepercayaan.

FORUM

Dalam diskusi terbatas, tujuan digagasnya BMT Centre, tak lain untuk melahirkan BMT yang punya keunikan khusus. Keunikan ini bisa didisain sesuai keinginan thinktank di belakangnya. Karena di belakang BMT Centre adalah DD, lumrah wajar dan amat manusiawi, BMT yang lahir itu harus mengusung visi DD. Jika tak demikian, ini jelas kegagalan manajemen. Berarti antara konsep, kebijakan dan implementasi harus jelas, terarah dan terukur. Harus ada keberanian untuk bersikap. Berkali-kali saya kutip pendapat Anwar Ibrahim, mantan timbalan PM Malaysia: Memimpin adalah keberanian bertindak dengan tidak menghiraukan selera publik. Asal pegang prinsip-prinsip dasar.

Leadership dan manajemen seolah tak lagi bertepi. Ini adalah seni. Bagaimana bisa mengarahkan segala sumber daya untuk meraih tujuan. Jangan sampai terjebak oleh permainan lawan. Jika didikte lawan, berarti gaya permainan kita kalah. Artinya pastikan, apakah kita sudah punya konsep utuh dan tujuan yang jelas. Jikapun sudah ada, bagaimana dengan kebijakan dan implementasinya. Jika kita lemah, sehebat apapun konsep bakal berakhir sia-sia. Berarti persoalannya kembali kepada diri sendiri. Apa yang sesungguhnya sedang digagas. Sering kita terhenyak dan baru tersadar setelah panggung usai. Dalam keheningan panggung yang tak ada lagi penonton, kita baru mengevaluasi apa yang telah terjadi di panggung tadi. Ada haru. Ada bangga. Terkadang ada senyum melihat tingkah laku pemain yang akrab dengan penonton. Tapi kerap juga ada penyesalan, karena lakon yang dimainkan tak sesuai dengan naskah yang digurat.

BMT Centre digagas adalah untuk bicara 10 dan 20 tahun ke depan. Kita boleh tiada, namun visi ke depan harus dilanjutkan oleh generasi mendatang. Biarkan kita tidak menikmati hasil, karena visi memang bicara tentang warisan bagi generasi mendatang. Kita rindu oleh keberanian mempertahankan pendapat. Kita rindu akan terobosan yang visioner, mampu menjawab apa yang dibutuhkan hari-hari esok. Kita rindu sesuatu yang bisa berkembang dan dimiliki generasi mendatang. Maka tanamkan investasi yang namanya profesionalitas sebagai landasan pijak yang kokoh. Dengan profesional, generasi mendatang akan lebih mudah untuk melanjutkan cita-cita besar BMT.

Lembaga manapun sepakat, semua pasti ingin profesional. Namun tak semua lembaga dewasa untuk melihat ternyata ada yang lebih maju karena lebih profesional. Tak usah paksa BMT yang tak cocok dengan gaya BMT Centre. Sebab siapapun punya hak untuk menentukan kiprah sesuai dengan minat, bakat dan gayanya. Biarkan BMT tumbuh dengan pola keunikannya. Sudah jadi sunnatullah yang lemah meminta bantuan. Namun ada yang tak pernah disadari, bahwa kesuksesan diraih dengan kerja keras. Bukan mengharap bantuan. Ingat, kita sering menunggu bantuan. Ternyata yang diharap-harap tak juga kunjung datang. Maka jangan silau nama besar dan jangan pula silau lembaga besar. Karena hari ini, detik ini tergantung pada sikap kita. Kita berbuat kebaikan di detik ini, akan melahirkan kebaikan di detik berikutnya. Siapa yang berharap bantuan di detik ini, cenderung berharap bantuan di detik berikutnya.

BMT Centre dihadiri oleh pentolan-pentolan besar. Mereka telah tumbuh dengan karakter masing-masing. Lantas apakah karakter ini akan disatukan? Jangan. Biarkan mereka tumbuh bahkan dorong agar karakter itu lebih kuat dan kokoh. Yang penting arahkan karakter tersebut untuk membangun kehidupan. Itulah sinerjitas. Maka BMT Centre yang dihadiri oleh lintas pentolan, memang telah jadi sebuah forum. Di forum segala curhat harus ditampung. Di forum semua pihak harus menjaga diri. Artinya menjaga keujuban agar tak menimbulkan guncangan pada anggota yang lain. Forum BMT Centre yang dihadiri oleh BMT dengan asset di atas Rp 3 miliaran, pun telah jadi pembatas. BMT berasset di bawah itu, dengan sendirinya harus pahamlah. Itu bukan wilayah mereka.

Banda Aceh

25 Juni 2005


Tak Ada Alasan Menolak

⊆ 17:17 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 0 komentar »

“Mas, sesungguhnya saya ingin mempromosikan anda untuk bergabung di tim Kuntoro”, kata seseorang di ujung telepon. “Namun anda ini kan biasa independen, apa mau berada di tim bentukan SBY”, tambahnya ragu. Waktu pun berjalan cepat, tiba-tiba saya sudah berjumpa dengan orang yang di ujung telepon itu. Tampaknya dia amat berharap agar saya mau bergabung. ”Ada point penting saat meresmikan BRR (Bapel Rehabilitasi dan Rekonstruksi), Kuntoro Mangkudisubroto mengatakan: “Kita bukan membangun phisik Aceh, namun membangun kembali suatu kehidupan”, ujarnya menirukan kata-kata Kuntoro.

Kendati terkesan klise, bagi saya statement Kuntoro tetap mengejutkan. Ternyata masih tersisa, pejabat yang ingin membangun bangsanya sungguh-sungguh. Semua ingin membangun. Tapi kerap waktu membuktikan, pembangunan itu cuma buat keluarga dan kelompok. Tentang Kuntoro, saya memang tak banyak tahu. Saya bukan pengamat politik. Saya pun tak pernah tertarik korek-korek cari kesalahan orang lain. Sebab saya juga tak suka jika kesalahan dan kekeliruan saya dipublikasikan kemana-mana. Alhamdulillah puji syukur bagi Allah swt karena masih menutupi aib-aib saya.

Cukup banyak yang bilang, lingkungan Kuntoro termasuk resik. Siapa tak kenal Mar’ie Muhammad dan Erryriana Harjapamekas, dua nama yang krediblitasnya terbangun karena dikenal resik. Ini contoh di antara sebagian teman-teman dekat Kuntoro. Memang seperti Rasulullah saw katakan: “Untuk melihat seseorang, lihat siapa teman-temannya”. Lingkungan ini tentu memberi harapan. Setidaknya garansi akan ada harapan untuk berubah. Jikapun akhirnya menyimpang, jangan lupa, siapa sanggup ubah tradisi korup yang sudah mendarah daging di Indonesia. Jadi? Yah itulah, setidaknya pernah ada harapan.

Juga jangan salah, saya tak anggap diri saya bersih. Apa sih reputasi yang saya miliki. Cuma ngurusi Dompet Dhuafa Republika (DD), lembaga nirlaba lokal, kecil dan kegiatannya untuk kalangan fakir miskin. Belum pernah saya terlibat dalam kegiatan orang-orang besar, dengan dana besar dan lebih-lebih yang sifatnya kenegaraan. Saat di DD, clean and good corporate memang ditradisikan. Karena kondisi kejujuran dan keamanahan ditegakkan dan uangnya sedikit, sulit bagi teman-teman untuk bisa korupsi uang. Korupsi waktu, mungkin banyak terjadi. Saya memang undur dari DD, tepat di hari jadi DD yang ke 10 tahun 2003. Saya yakin, saya tak bawa uang sepeserpun. Wallahu’alam. Sekitar tahun 1995, para pendiri DD menandatangi pernyataan yang isinya tidak ada hak waris kepemilikan kepada isteri, anak dan keturunan.

Citra DD yang bisa survive ternyata mendulang simpatik. Bagi beberapa pihak, kemunduran saya juga jadi catatan tersendiri. Catatan ini jelas beragam. Barangkali ada yang terkejut dan bertanya-tanya. Mungkin ada yang senang dan amat mendukung. Yang sedih tapi menghargai keputusan itu juga cukup banyak. Yang pasti regenerasi adalah sunatullah. Dalam panggung pertunjukan ada postulat penting yang tak boleh diremehkan. Turun dan naik panggung suatu hal biasa. Sehebat apapun seorang bintang, mustahil ia bisa kemas agar panggung tetap berkiblat padanya. Karena itu percayalah, pasti ada juga yang tidak suka atas kesuksesan bintang dimanapun. Pandai-pandailah seorang pemain untuk tahu kapan saatnya turun panggung. Turun panggung tak berarti layar pun ditutup. Biarkan layar tetap terkembang. Dorong pemain lain naik panggung, menggoresi layar dengan cerita sesuai karakter dan zamannya.

Kemunduran saya menarik pihak untuk mendorong ke BRR. Dalam diskusi terungkap bahwa BRR butuh:

  1. Orang jujur dan amanah

Jujur dan amanah berbeda. Orang jujur belum tentu amanah. Tapi orang yang amanah sudah pasti jujur. Artinya siapapun bisa jujur karena di kantong belum ada uang. Tetapi begitu kantong sudah terisi, belum tentu orang bisa bertahan jujur. Maka yang bisa menahan diri saat kantong berisi, dia lah orang yang amanah. Kejujurannya telah terbukti.

  1. Komitmen dan konsistensi

Saya ditawari untuk bergabung di tim ekonomi. Yang diurus apalagi jika bukan usaha kecil dan menengah. Ini sebuah pekerjaan yang banyak orang menghindar. Kenapa? Karena hanya mengurusi orang-orang kecil. Tanpa panggilan hati, pekerjaan seperti ini bakal segera ditinggal. Jikapun tak ditinggal, pekerjaan ini ditangani setengah hati. Maka dibutuhkan komitmen dan konsistensi.

  1. Punya pengalaman dan cakap

Memang tak semua orang mahfum bahwa perjalanan DD merupakan kisah yang babak belur. Bagi pengamat dan yang mahfum, balada DD tentu amat menarik. DD sebuah contoh lembaga lokal yang bisa bertahan, beringsut dan berjingkat di antara belantara NGO. Malah DD telah menjelma menjadi inspiring institution, menginspirasi lahirnya banyak lembaga. Ini memang jadi catatan tersendiri.

  1. Terbukti mampu melaksanakan program

Saya katakan kesuksesan itu relatif, bisa jadi juga tergantung pada sudut pandang. Tapi pandangan ini dipatahkan. Yang jelas kata tim yang mengajak saya, DD sudah membuktikan selama 10 tahun. Yang tadinya lembaga tak jelas, kini bergerak dan telah berkembang. Meski saya katakan relatif, toh program-program DD terus bergerak dan jumlah donatur pun semakin bertambah.

Di samping alasan itu, tim rekruiting amat tertarik pada kemunduran saya di DD. Tanpa adanya indikasi korupsi, kata mereka, lembaga telah diserahkan pada generasi berikut dengan smooth. Sikap seperti ini jadi cita-cita BRR. Sebab masa kerja BRR memang telah dipatok, selama-lamanya maksimal tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, seluruh kerja BRR diserahkan pada masyarakat Aceh. Jadi BRR memang baru punya cita-cita. Sedang DD telah melakukannya. “Jadi tak ada alasan anda untuk menolak bergabung di BRR. Ahlan wasahlan”, kata tim rekruiting BRR.

Saya tertegun. Terbata-bata saya ajukan kesulitan yang saya bayangkan. Bisa-bisa saja saya full di Aceh. Tapi saya menawar, bolehkah saya pulang ke Jakarta setiap dua minggu. Saya minta izin dua hari, untuk mengurus usaha yang tengah dibangun. Setelah 10 tahun di DD, saya harus mulai kehidupan dari nol lagi. Jika bergabung dengan BRR selama tujuh tahun di Aceh, haruskah saya mulai hidup dari nol lagi? Saya tak mau terlambat memulai usaha. Semakin usia bertambah, harusnya usaha juga makin dewasa. Jangan terbalik, usia makin uzur sedang usaha baru dilahirkan. Dalam usia yang tak lagi produktif, tentu sulit memulai usaha baru. Fase awal usaha baru, tentu harus ditopang oleh kekuatan yang masih enerjik.

Dengan berat hati, akhirnya tim dan deputi ekonomi BRR mengizinkan. 1 Juni 2005, babak baru di Aceh pun dimulai. Dalam membakar semangat teman-teman, sering saya katakan bahwa DD merupakan shadow state. DD hidup dari zakat masyarakat. Sedang pemerintah hidup dari pajak masyarakat. Core activity DD adalah mencoba mengatasi kemiskinan masyarakat. Sementara pemerintah bertugas membangun kesejahteraan bagi bangsa. Amil sebagai pegawai DD dijamin hak-haknya. Pegawai pemerintah pun sesungguhnya telah dijamin hak-haknya. Perbedaannya terletak pada dua hal. Pertama skala kelembagaan, bahwa DD adalah lembaga kecil, sementara pemerintah adalah lembaga raksasa. Kedua pemahaman jati diri lembaga bahwa amil harus paham substansi DD sebagai lembaga nirlaba yang punya peran, fungsi dan tugas-tugasnya. Sementara berapa banyak dari pegawai pemerintah yang sadar pemerintah merupakan lembaga nirlaba? Sudahkan esensi organisasi pemerintah sebagai lembaga nirlaba disosialisasikan pada jajaran pegawai pemerintah.

Karena itu tak bosan-bosan saya bangkitkan kesadaran, bahwa amil harus paham posisi. Bekerja di DD, perannya seperti negarawan. Syarat sebagai negarawan sebenarnya jelas. Kriterianya tak sulit digagas. Namun implementasinya bukan perkara mudah. Negarawan harus paham kedudukannya, kepentingan bangsa di atas segalanya. Tak bisa kompromi dengan beragam kepentingan, baik pribadi atau kelompok, kepentingan sesaat atau hanya jangka pendek. Apapun yang dilakukan konteksnya tetap mengarah pada kebangsaan. Kata-kata ini memang seolah-olah begitu heroik. Tetapi siapa suruh kerja di DD. Karena DD lembaga nirlaba, didanai dengan ZIS masyarakat, maka khidmatnya kembali kepada masyarakat.

Sejak 1 juni 2005 saya sudah di Aceh. Gugahan shadow state dan negarawan kini bukan wacana yang selalu saya dengung-dengungkan. Aceh merupakan satu wilayah independen. Propinsi yang punya otonomi khusus dengan kesyariahan sebagai kearifan lokalnya. Dalam konteks BRR, Aceh seolah the other state. Presidennya bukan lagi SBY, melainkan Kuntoro. Ini bukan hendak berpolitik-politikan. Tetapi permintaan BRR setingkat menteri dengan dana khusus serta status independennya, menempatkan BRR dan Aceh jadi amat menarik disimak.

Aceh memang baru lepas dari Tsunami. Tapi ternyata tak serta merta semua soal lenyap dibetot Tsunami. Justru Tsunami di Desember 2004 itu, mewarisi banyak soal. Tsunami menjadikan Aceh bagai rumah yang sebagian ambruk. Merehab rumah yang setengah ambruk, jauh lebih sulit ketimbang membangun rumah yang habis sama sekali. Sementara di reruntuhan rumah, masih ada kehidupan dengan segala problem traumatiknya. Belum lagi soal ini bisa ditemui jawabnya, soal GAM masih jadi batu sandungan. Sulit membangun kehidupan dalam kondisi yang tak jelas keamanannya. Soal kependudukan, status tanah dan lenyapnya berbagai asset, merupakan persoalan prioritas yang harus disikapi secara jernih. Kredit bank misalnya, haruskah segera di-write off atau tetap dijadikan sebagai utang. Jika yang berutang wafat terkena Tsunami, kemana bank harus menyelesaikannya. Sedang tanah-tanah yang tak lagi jelas batas-batasnya, juga harus segera ditindaki agar tak jadi bom waktu di kemudian hari. Tak bisa tentunya membangun sesuatu di atas tanah yang tak jelas status hukumnya.

Itu soal internal Aceh. Soal eksternalnya, sejak Tsunami melabrak, sebagian besar NGO dunia hadir ke Serambi Makkah ini. Data di bulan April 2005, tersisa sekitar 150-an NGO. Sebelum bulan April tentu lebih banyak lagi. NGO ini telah bekerja sejak Januari 2005. Kendati dinyatakan tidak, tapi realitanya tetap terjadi perebutan lahan garap. Di samping terjadi pula program yang overlap antara satu NGO dengan lainnya. Dalam kondisi begini, semua hal bisa-bisa jadi masalah. Padahal banyaknya NGO yang hadir, merupakan sesuatu yang amat bermanfaat. Tinggal bagaimana mengatur siasah agar kehadiran mereka jadi potensi yang bisa mendongkrak Aceh. Yang harus dicegah dan diarahkan, adanya kepentingan dan agenda khusus dari beragam misi yang hadir di Aceh. Jika tidak kearifan lokal ini akan berderak berbenturan dengan misi yang tidak bertanggung jawab. Hati-hati sebab pasti ada pihak yang menjadikan Tsunami sebagai momentum untuk menyebarkan misinya di Aceh.

Sementara BRR sendiri, baru hadir sekitar empat bulanan setelah Tsunami. Dengan posisi serba telat, kiprah BRR telah mendulang berbagai pertanyaan. Pertama sebagai wakil resmi negara, BRR harus mengajak Pemda Aceh untuk bisa menerima BRR dengan lapang dada. Kedua BRR yang lahir belakangan, dituntut untuk lebih sigap melampaui NGO yang punya reputasi dunia. Dengan segala kesulitannya, BRR harus bisa memposisikan diri agar tak terjebak seperti mengajari bebek berenang terhadap NGO. Ketiga BRR harus paham dengan kultur dan watak masyarakat Aceh, yang sebagaiannya merasa dikibuli pemerintah pusat. Karena itu bantuan yang bakal diberikan BRR, jangan sampai hanya dijadikan hadiah tanpa bisa merubah etos kerja masyarakat.

Keempat di tubuh BRR sendiri perlu diwaspadai. BRR punya misi besar, menyelamatkan Aceh. Soalnya adalah mau tak mau misi ini menempatkan BRR bagai kapal induk. Sementara sebagai kapal induk, tidak otomatis memecahkannya dengan merekrut sebanyak-banyak orang. Bagaimana caranya dengan SDM yang minimal, kapal induk bisa digerakkan. Di antara orang yang hadir di BRR, tentu punya latar yang berbeda. Pertanyaannya, sudahkah di antara orang yang memperkuat BRR ini telah saling ber-ta’aruf? Sudahkah orang-orang BRR paham akan visi yang diemban. Jangan-jangan kelak seperti pegawai pemerintahan, tak paham jati diri negara, tak paham visi bangsa dan tak mengerti posisi. Jangan-jangan karena langsung asyik bekerja, kapal induk ini tak diselami apa isi kandungan sesungguhnya. Jika belum paham, asyik bekerja ini sebenarnya untuk apa dan untuk siapa. Bisa jadi di lapangan akan terjadi benturan, dan ternyata sama-sama kaget karena sama-sama berasal dari BRR.

Dan persoalan besar yang dihadapi BRR, kelak apa yang sudah dilakukan BRR harus diserahkan pada masyarakat Aceh. Jika BRR sukses, pemindahan wewenang dan tanggung jawab itu harus diantisipasi agar berjalan baik. Jika BRR gagal, inilah bencana yang tak kalah tragisnya dengan Tsunami. Ya Allah mudahkan, ringankan dan lancarkan. Jangan Engkau beri cobaan dan beban yang berat sebagaimana telah Engkau coba umat-umat terdahulu.Lindungai pula kami dari godaan khianat. Serta jauhkan kami dari golongan orang-orang yang bukan ahlinya. Amin. Bismillah ...

(Banda Aceh, 3 Juni 2005)


Sampah

⊆ 17:12 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 0 komentar »

Tanggal 28 April 05, Republika memuat foto tentang monumen sampah. Monumen ini berbentuk tugu. Dibuat dari sampah kertas, plastik, botol dan kaleng yang beratnya 2.8 ton. Tugu Sampah yang tingginya 15 meter dengan diameter 32.4 meter ini, dibangun di kampus Universitas Negeri Semarang. Pemuatan foto ini memang sensitif, pasti ada motif di belakangnya. Coba bayangkan, membuat tugu dari sampah dan ditempatkan di sebuah kampus. Ini saja sudah membuat orang bertanya-tanya. Sementara belakangan, soal sampah memang tengah hangat. Lantas dengan dimuatnya di Republika, sempurnalah keinginan pembuat Tugu Sampah.

Entah mana yang lebih nakal, pembuat Tugu Sampah atau wartawannya. Ada pesan yang memang berupaya disuguhkan, bahwa satu soal besar yang menghadang bangsa ini adalah SAMPAH. Jakarta punya sampah, Bantar Gebang Bekasi yang meradang. Entah soal Bantar sudah selesai atau belum, di belahan lain warga Cibinong Bogor ramai-ramai menolak sampah Jakarta. Bagai dalam kisah asmara cinta ditolak dukun bertindak, eksportir sampah pun tak kalah gertak. Sampah ditolak, prokem pun bertindak. Belum lagi kasus ini usai, tiba-tiba masyarakat dikejutkan adanya longsoran sampah di Cimahi Bandung. Tak tanggung-tanggung longsoran sampah pun memakan korban.

Sesuai dengan jati diri sampah, berita sampah tentu gombal. Tapi soal sampah di Indonesia, kini bukan lagi gombal. Berlarutnya penanganan sampah, pelengkap cermin perilaku sikap hidup. Indonesia memang kaya berita besar yang sensasional, dramatis, memilukan dan sering amat naif. Di belahan dunia manapun longsoran tak bisa lepas dari gejala alam. Namun Indonesia memang selalu membuat orang-orang di luar negeri geleng-geleng kepala. Berbagai asset BUMN dijual ke asing, serta sumber daya alam pun diobral untuk dieksplorasi asing. Kini PIM (Pupuk Iskandar Muda) pun tak kebagian pasokan gas hingga terancam bubar. Di kelapa sawit yang sekian juta ha, kita cuma ekspor CPO (crude palm oil). Tak ada nilai lebih. Di industri mobil yang begitu besar pasarnya, kita juga hanya jadi tukang. Sekian puluh tahun membangun industri mobil, tak satupun ada yang bermerk made in Indonesia. Lantas balik ke soal sampah, timbunan sampah hingga longsor cuma ada di Indonesia. Makan korban jiwa lagi.

Karakter Bangsa

Sampah merupakan sesuatu yang tak lagi terpakai, atau memang tak lagi mau dipakai. Sampah beragam jenisnya. Kebanyakan sampah dimahfumi sebagai sesuatu yang berwujud nyata, bisa disentuh dan dilihat phisiknya. Yang tak banyak dipahami orang, ada pula sampah yang tak berwujud. Seperti pikiran yang tak punya nilai apa-apa tentu jadi sampah pikiran. Sebagian masyarakat yang terlibat dalam tindak kriminal, jaringan pengedar narkotik dan pelacuran, juga merupakan contoh-contoh sampah masyarakat. Sampah yang berwujud phisik, onggokannya ada yang bersih, kotor dan bahkan ada juga sampah yang berbahaya. Setiap hari manusia menghasilkan sampah. Binatang pun demikian, termasuk tetumbuhan dan pohon yang semuanya menghasilkan sampah. Berarti hitungannya bukan lagi harian tetapi sudah per detik.

Saat masih sedikit, sampah dapat segera ditangani. Sebatang puntung rokok misalnya, sesobek kertas atau sehelai tissue, dengan mudah dibuang ke keranjang sampah. Tetapi saat sampah sudah di keranjang plastik, persoalan pun muncul. Bagi warga yang hidup di tempat kumuh, plastik berisi sampah dibuang sekenanya. Jika di sekitar rumah ada kali atau selokan, pasti dipenuhi sampah-sampah plastik. Jika di situ terdapat lahan kosong, tanpa dikomandoi warga beramai-ramai menjadikan itu tempat pembuangan sampah. Jika tak ada got dan lahan kosong tak ada, tetangga yang punya halaman jadi sasaran. Tiap pagi penghuni rumah harus membersihkan karena selalu saja ada plastik sampah yang dibuang ke halamannya. Cara mudah membuang sampah, warga sekenanya meletakkan di jalan, di kelokan, di sudut jalan atau di persilangan jalan.

Di perumahan-perumahan tabiat penanganan sampah berbeda. Di lingkungan ini penanganan sampah sudah lebih tertata. Truk-truk atau gerobak sampah datang membongkar sampah yang ditempatkan di bak penampung di sudut depan rumah. Yang tidak punya bak penampungan, sampah-sampah diplastiki digantung di pagar atau di pohon di depan rumah. Tujuannya baik agar tak diacak-acak binatang. Namun dari segi pemandangan tentu jadi tak sedap. Apalagi jika sampah itu sudah berhari-hari tak diangkat. Lalat berterbangan dan air limbahnya menetes-netes menimbulkan aroma yang juga tak sedap.

Di daerah perkotaan, sampah yang berupa kotoran, segera ditampung di septic tank. Tetapi sebagian tradisi masyarakat kita, terutama yang masih tinggal di kampung, tidak mengenal WC. Jika di kampung ada sungai, di situlah mereka buang hajatnya. Karena sebagian masyarakat kita juga tak kenal sumur, maka mereka pun mencuci dan membersihkan diri di kali itu. Jika pemerintah gali lubang tutup lubang cari utangan buat bangun negara, masyarakat desa yang tak kenal WC gali lubang tutup lubang untuk buang hajat di kebun-kebun, di semak belukar atau di lahan kosong. Pokoknya asal tidak di rumah, di manapun jadilah.

Sampah merupakan sesuatu yang tidak disukai oleh pemiliknya. Maka begitu sampah diangkat, yang empunya terbebas dari beban. Tiga hari atau bahkan seminggu sampah tak diambil tukang sampah, seisi rumah pasti gempa bumi. Setelah diambil kita tak mau tahu kemana sampah itu dibuang. Entah dibuang ke sungai, digeletakkan di lahan kosong pemukiman rakyat atau di kampung-kampung. Bayangkan apa yang terjadi jika tempat penampungan sampah ada di sebelah istana negara, atau di pemukiman para pejabat atau di Menteng Jakarta Pusat. Jika presiden dan pejabat berkebaratan, mengapa sampah di tempatkan di kampung-kampung? Apakah warga yang kampungnya jadi tempat pembuangan sampah lantas ikhlas?

Dalam penanganan sampah begini, yang kerepotan adalah para tukang sampah. Pertama mereka mau mengangkut sampah, karena memang tak ada lagi job yang bisa mereka kerjakan. Kedua dari sisi penghasilan, tukang sampah menerima hanya untuk bertahan hidup. Karena sampah, ibu-ibu rumah tangga berkeberatan harus membayar lebih. Namanya juga sampah, untuk apa bayar mahal. Padahal yang ketiga, tukang sampah inilah yang harus membayar upeti kepada centeng-centeng yang menguasai lahan pembuangan sampah. Keempat para tukang sampah, apa boleh buat harus mau berbau-bau bekerja menyelesaikan sampah masyarakat. Padahal ada bau sampah satu plastik saja, di rumah manapun pasti sudah geger. Kelima jasa tukang sampah memang amat besar. Sebab merekalah yang mengurusi barang menjijikan yang tak mau diurus pemiliknya.

Soal sampah memang jadi cermin. Sebuah karakter tengah dipertontonkan. Intinya kita tidak paham bagaimana sesungguhnya menangani sampah. Dari yang kecil kita bisa lihat. Di ruang ber-AC, sebagian masyarakat masih saja tetap merokok. Mereka tak mau tahun polusi sampahnya mengganggu orang lain. Puntung atau bungkus permen pun masih kerap dibuang seenaknya. Sampah-sampah di rumah harus keluar. Penghuni rumah tak mau tahu dimana sampah dibuang. Termasuk warga yang tinggal di pemukiman elit, juga tak perduli jika truk dan gerobak sampah memuntahkan isinya ke sungai, ke lapangan kosong, atau di manapun asal tidak di sekitar rumahnya. Maka hampir di mana-mana, selalu berserak yang namanya sampah. Malah di tempat-tempat penampungan, sampah selalu menggunung tumpah ruah. Cara penanganan sampah Jakarta, sedikit banyak ditiru kota lain. Cara di kota ini berimbas juga ke daerah yang lain. Karena tak tertangani secara serius dan baik, sampah dari yang kecil menjadi-jadi volumenya. Karena semua orang Indonesia memproduksi sampah, bukankah ini sampah bangsa namanya. Dari yang sederhana, akhirnya jadi kompleks dan strategis.

Beda Sampah Orang Miskin & Orang Kaya

Semua orang memproduksi sampah. Dari produksi ini, kita dapat mengklasifikasi sampah sesuai kualitasnya. Ada sampah yang sama sekali tak bisa terpakai, kecuali untuk pupuk. Ada yang masih dimanfaatkan, yang nilainya tergantung kepandaian mengurai mana yang masih bisa digunakan. Ada juga sampah yang memang mutlak bisa digunakan seperti saat barang itu diluncurkan pertama kali. Dari klasifikasi fungsi sampah tersebut, ternyata hasilnya bisa menjelaskan status sosial masyarakat. Dari sampah ini, kita dapat bedakan mana sampah orang miskin, mana sampah kelas menangah dan mana sampah orang-orang kaya.

Dari sekian perbedaan, intinya terletak pada sejauh mana sampah itu masih bisa didaur ulang dan digunakan. Maka sampah orang miskin, ternyata sama sekali tak lagi bisa dikonsumsi oleh orang lain. Sampah kelas menengah, relatif masih bisa didaur ulang dimanfaatkan pihak lain. Sedang sampah orang-orang kaya, barangnya cenderung mutlak bisa digunakan tanpa perlu diurai atau didaur ulang. Dalam membuang barang, orang kaya tak perlu menunggu sesuatu barang menjadi rusak. Bahkan dalam mengganti barang, alasan orang kaya bisa amat sederhana. Karena ada model baru yang lebih menarik, misalnya, barang pun diganti. Ada yang mengganti barang, karena ternyata ada orang lain yang pakai. Atau barang masih bagus sudah disisihkan karena alasannya sudah tak suka saja.

Toko-toko penjual HP, banyak menampung beragam jenis HP bekas. Berbagai show room mobil, juga banyak dijejali mobil-mobil bekas. Bahkan di Jakarta ini ada outlet Barbeku (barang bekas berkualitas), yang menampung berbagai barang second hand. Artinya barang yang sudah tidak mau dipakai, bagi pemilik sesungguhnya merupakan sampah. Namun karena masih punya nilai jual, secara ekonomis barang-barang itu pun dijual. Uang yang mereka terima, mungkin hanya dipakai untuk tambah-tambahan atau habis di rumah-rumah makan. Bedakan dengan para penjualnya, yang memang berdagang dengan tak mengindahkan apakah baru atau bekas. Yang penting nilai jualnya baik, berarti masih ada orang yang siap membeli.

Pakaian orang miskin, maaf aroma alami dari bau tubuhnya tentu beragam. Jika dibuang, siapa yang mau mengenakannya. Sekali lagi maafkan, mereka saja sudah enggan memakai, apakah masih tersisa orang lain yang mau mengenakannya? Berarti kondisi pakaian itu mungkin memang sudah hancur-hancuran. Bedakan dengan baju orang kaya. Kondisi pakaian orang kaya, dijamin masih layak pakai. Merk baju-bajunya bukan hanya menandakan selera dan kelasnya, melainkan juga kualitas kekuatannya terjamin baik. Lantas aroma wewangiannya, tentu masih melekat karena setiap dipakai disemprot minyak wangi. Bahkan kelompok artis, banyak yang memakai pakaian yang hanya dipakai satu kali saja saat manggung. Setelah itu dijual atau dilungsurkan kepada orang lain. Dan juga pasti ada orang kaya yang begitu tahu salah membeli, barang itu tak akan digunakan sekalipun. Maka beruntunglah orang-orang sekitarnya yang akan mendapat berbagai lungsuran barang.

Tradisi Orang Kalah

Daur ulang sampah memang amat tergantung kondisi sampah. Mendaur ulang sampah dan menggunakannya, dalam kondisi darurat tidaklah mengapa. Tetapi jika daur ulang itu sudah jadi kebiasaan, masalahnya jadi lain. Hidup dengan selalu mendaur ulang sampah adalah persoalan serius. Itu mencerminkan sebuah jati diri. Bahwa daur ulang tak lepas dari kreativitas dan inovasi, tidaklah dapat dibantah. Tetapi mendaur ulang sampah, sejatinya merupakan kreativitas masyarakat kalah.

Bicara masyarakat yang kalah definisinya beragam. Sebagai masyarakat yang kalah, predikat apapun yang diberikan tak bisa ditolak. Ditilik stratanya, masyarakat kalah adalah mereka yang fakir miskin. Mengapa jadi fakir dan miskin, jawabnya tentu bisa meluas. Ada faktor internal dan eksternal, sebagai dua hal yang saling mengait. Yang pasti mereka gagal memanfaatkan peluang dengan kekuatan yang dimilikinya. Karena gagal kini mereka lemah dalam segala hal. Atau karena lemah mereka jadi gagal total. Apapun penyebabnya, hidup mereka akhirnya tergantung pihak lain, tergantung kebaikan hati orang kaya dan amat tergantung kebijakan penguasa.

Gagal memanfaatkan peluang, artinya tak bisa melihat potensi sumber daya. Baik dalam memanfaatkan sumber daya alam, maupun mencermati lingkungan sosial yang menawarkan banyak peluang usaha. Jikapun punya sumber daya, ternyata sumber daya itu diberikan pada pihak lain. Maka jika mereka punya lahan sawah dan kebun, berapa banyak petani yang jatuh dalam perangkap ijon dan tengkulak. Jika mereka punya lahan begitu luas, mengapa kini terpetak-petak dan sebagian besar telah berubah kepemilikan. Jika mereka datang ke pasar membawa dagangan, mengapa uang yang dibawa pulang tak bisa menjajikan masa depan. Dalam hal ini memang ada faktor eksternal di luar jangkauan nalar kalangan rakyat jelata.

Tak bisa mengelola sumber daya, bukankah ini juga yang terjadi di pemerintahan. Di luar negeri, jarang sekali ada negara yang memiliki minyak dan gas sekaligus. Rata-rata jika punya minyak, mereka tak punya gas. Jika punya gas, berarti tak ada minyak. Hanya Indonesia, sedikit negara yang punya sekaligus minyak dan gas. Bahkan dalam hal minyak, Indonesia punya tiga jenis minyak. Di bawah tanah ada minyak bumi, di atas tanah ada minyak sawit dan minyak kelapa. Namun sederas-derasnya minyak itu didulang, tak juga bisa mensejahterakan rakyat. Malah berapa banyak rakyat di sekitar daerah pengolahan minyak bumi, hanya jadi penonton kemewahan orang-orang asing dan pekerja lain yang hilir mudik di situ.

Antara rakyat dan pemerintah, ternyata sama-sama tak bisa mengelola sumber daya. Rakyat jadi makin miskin karena menjuali apa yang dimiliki. Pemerintah juga tak bisa apa-apa saat Exxon tak mau menjual gas pada PIM di Lhokseumawe Aceh. Bedanya kemiskinan rakyat terlihat kasat mata, sedang pejabat pemerintah tak tampak miskinnya karena masih punya fasilitas. Rakyat tak lagi menyisakan harta buat anak-anak mereka, sedang pemerintah telah mewariskan generasi mendatang dengan utang, yang di tahun 2005 ini mencapai Rp 1.600 triliun. Rakyat memang bodoh hingga jadi miskin, sementara bukankah banyak orang pintar di pemerintahan. Karena bodoh rakyat tak mungkin menjual keluarga. Namun apa mungkin karena banyak orang pintar maka negara pun bisa dijual.

Rakyat miskin memang akhirnya hidup dari mengkreasi sampah. Tetapi mengapa kreasi dari sampah ini dituruti kalangan yang mampu. Pakaian bekas dari Taiwan dan Korsel membanjiri Indonesia. Lalu ban-ban bekas menyusul. Jok bekas, mesin bekas hingga mobil bekas pun banjir di Indonesia. Malah perusahaan air mineral raksasa di Indonesia, juga menggunakan truk-truk bekas. Ciri truk bekas luar negeri itu, panjangnya melebihi panjang truk lokal. Body belakang terbuat dari alumunium. Sedang tulisan berhuruf Cina Mandarin masih tegas terbaca. Aneh, ironis, menarik dan bingung campur aduk di benak kepala menyaksikan truk-truk ini. Pemerintah DKI membeli truk baru untuk mengangkut sampah. Sedang berbagai perusahaan membeli truk-truk bekas untuk mengangkut dagangannya. Rakyat miskin menggali pasir di sungai, untuk menyambung hidup. Sedang beberapa perusahaan besar berbisnis pasir ke Singapura. Para penggali pasir di sungai tak pernah terpikir menjual sungai, sedang perusahaan penggali pasir telah menenggelamkan beberapa pulau.

Dari uraian di atas, rakyat dan pejabat ternyata punya kemampuan serupa, yakni tak bisa mengelola sumber daya. Tak mampu mengelola sumber daya adalah ciri orang yang kalah. Tak mampu dan kalah, bukankah sesuatu yang tercampakkan. Sesuatu yang tercampakkan, bukankah itu sampah. Maka astagfirullah berlebihankan jika bangsa kita dikatakan BANGSA SAMPAH. Kenapa? Karena kita tak cakap mengelola anugerah Allah swt. Sumber daya dieksplorasi asing. Pasir digali untuk menambah pantai di Singapura. BUMN dijual. Hutan ditebasi yang kayunya diekspor legal atau tidak dalam bentuk gelondongan. Karena tak mampu mengelola sumber daya seperti itu, bukankah tindakan kita yang katanya membangun, jelas-jelas memiskinkan bangsa. Berpuluh-puluh tahun punya industri mobil, tapi tak juga ada made in Indonesia.

Sejarah Indonesia memang penuh air mata. Tapi kita tak perlu mengusap air mata sejarah. Biarkan itu berlalu, asal kita sungguh-sungguh mau berbenah. Namun masih adakah orang-orang yang memang terpanggil, melihat ibu pertiwi semakin hancur dan tenggelam. Dua ratus juta orang yang mengaku bangsa Indonesia. Tidakkah ada sekelompok orang yang tergugah untuk menyelamatkan bangsa. Wah... kata-kata ini amat heroik, yang pasti akan ditertawakan oleh BANGSA SAMPAH.

Mei 2005


Sedekah, Ibadah Yang Hidup

⊆ 17:11 by SOCIAL ENTREPRENEUR | ˜ 0 komentar »

Di tulisan yang lalu, sedekah jadi terhina karena praktek sedekah di masyarakat bawah. Di sepanjang pantura (pantai Utara) Jawa, peminta sedekah sudah bukan lagi hanya mengganggu, melainkan sungguh-sungguh menyulitkan pengguna jalan. Bukan lagi berbahaya bagi pengguna jalan, melainkan juga telah memacetkan jalan. Jalur yang dibangun dua lajur, dihadang ban-ban bekas dan pancangan bambu hingga menyempit tinggal satu lajur. Herannya polisi tak perduli, seolah tak punya wewenang dan tanggung jawab. Padahal membenahi persoalan hadangan sedekah begini bukan perkara sulit. Dengan persuasif, para peminta sedekah dapat diarahkan untuk berdiri di tepi jalan. Tidak perlu harus berjajar di tengah jalan, lebih-lebih mempersempit jalan dengan cara-caranya sendiri. Perlu diingat jalan pantura bukan ruas jalan kecamatan ataupun jalan alternatif. Ini jalur utama yang setiap hari ribuan beragam kendaraan hilir mudik.

Jika hanya dijumpai satu dua penghadangan sedekah, pengguna jalan masih dapat memaklumi. Namun jika jumlahnya sudah puluhan bahkan tak lagi bisa dihitung, siapa bisa jamin bahwa cara begitu menimbulkan rasa tak simpati. Awalnya jengkel pada praktek yang menghadang lajunya kendaraan. Lama kelamaan kejengkelan itu akhirnya berubah jadi gugatan. Apakah Islam memang menganjurkan cara-cara seperti itu? Maka alih-alih merogoh kocek, pengguna jalan malah kerap menjadikan itu sebagai bahan olok-olok. Dan yang harus paling diingat tak semua pengguna jalan beragama Islam. Itu jelas. Bila yang muslim saja tak simpatik, bagaimana komentar pengguna jalan yang non muslim. Menteri Agama RI di jaman Megawati Soekarnoputri pernah menyatakan sikapnya untuk membenahi persoalan ini. Namun sayang hingga kabinet Mega selesai, persoalan tersebut tak pernah terangkat.

Di samping praktek yang merusak kemulyaan sedekah itu, dakwah tentang sedekah dari para ustadz amatlah minim. Di masa sekarang, berbagai masjid, mushola, surau dan tempat-tempat pengajian tak sulit menghadirkan ustadz. Tetapi dari sejumlah majelis pengajian itu, berapa banyak ustadz yang berdakwah tentang sedekah. Dari sejumlah yang berdakwah sedekah, berapa banyak yang kualitasnya sama baik seperti berdakwah dengan materi yang lain. Maka dari persoalan dakwah sedekah ini, ada dua pertanyaan yang mengemuka. Pertama mengapa dakwah tentang sedekah amat minim. Dan kedua mengapa harus disoal kualitas dakwah sedekah.

Perbedaan Dimensi

Memang ada perbedaan mendasar antara dakwah sedekah dibanding dakwah shalat atau puasa misalnya. Ibadah shalat atau puasa merupakan ibadah mahdah, yang tata aturannya sudah baku. Dimensinya hanya antara manusia dengan Allah swt, yang tata aturannya seperti dalam shalat merupakan tata ritual. Sebagai aturan yang sudah baku, secara tegas dikatakan tak lagi boleh ada aturan baru baik ditambah atau dikurangi. Siapa yang melanggar tata baku, bidah namanya. Shalat dan puasa tak perlu dibanding-bandingkan antara satu daerah dengan daerah lainnya, apalagi harus mengadakan studi banding. Sama sekali tak ada manfaatnya. Namun mempelajari dan membanding-bandingkan masih dibolehkan, asal niatnya untuk ketaqwaan. Untuk meyakini apakah shalat yang kita lakukan benar sesuai sunah Rasulullah saw. Bukan untuk mengklain bahwa shalat kita lebih baik dan lebih khusyu.

Sedekah merupakan ibadah maliyyah ijtimaiyyah, ibadah berdimensi ganda: hablumminallah & hablumminannas. Dalam hubungan dengan Allah, sedekah jadi bukti ketaqwaan. Sedang dalam dimensi sosial, sedekah merupakan ibadah yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam shalat, ketaqwaan harus dibuktikan dengan tingkat kekhusyuaan seseorang. Sedang dalam sedekah, ketaqwaannya harus dibuktikan dengan semakin baiknya praktek yang dilakukan. Tetapi ingat persoalan aktualisasi adalah masalah kompleks, kait mengait serta terjalin dalam proses kausalitas sebab akibat. Sedekah yang melibatkan seluruh pihak, bukanlah persoalan sederhana.

Shalat dilakukan oleh, dari dan untuk yang bersangkutan. Sementara sedekah dari muzaki, oleh amil dan untuk mustahik. Gangguan shalat --terutama dapat dirasakan saat Tahajud-- hanya terpulang pada diri sendiri. Sementara sedekah bisa dirusak oleh siapapun. Muzaki yang memang gemar bersedekah, tentu beda dengan orang kaya yang terpaksa mengeluarkan zakat. Yang gemar sedekah, tak lagi melihat zakat sebatas wajib. Keikhlasannya karena Allah swt, akan menempatkan penilaiannya bahwa zakat adalah sebagian kecil dari bentuk sedekah yang harus dikeluarkan. Sedang bagi orang kaya yang terpaksa berzakat, cenderung menempatkan zakat sebagai sesuatu yang amat besar. Jika tak diwajibkan, mustahil orang kaya seperti ini akan menunaikan zakat.

Yang gemar bersedekah dan terpaksa, pada akhirnya akan mempengaruhi praktek sedekah. Yang gemar bersedekah, akan mendorong praktek sedekah jadi maksimal. Jika yang gemar ini menyalurkan sedekah, kata-katanya yang terucap atau harapannya dalam doa, akan terasa dalam dan nikmat bagi mustahik ataupun amil sebagai pengelola zakat. Bahkan orang lain yang mendengar pun akan jadi tergugah dan terangsang untuk mengikuti sikapnya. Kata-kata dan doa harapan itu, akan membangkitkan semangat untuk mengekpslorasi sedekah jadi berkembang sebaik-baiknya. Dalam benak penerima, ini merupakan amanah yang harus dijaga. Semangat menjaga amanah, pada akhirnya akan membuncah jadi etos yang akan mempengaruhi keberhasilan sedekah. Mustahik akan memompa diri, sedang amil pun akan bekerja lebih giat menghubungkan antara muzaki dan mustahik.

Sebaliknya yang terpaksa berzakat, kata-katanya cenderung pedas serta mengandung tekanan mengancam. Bagi mustahik atau amil, kata-kata itu bagai sembilu. Orang lain yang mendengar pun terbirit-birit menghindar. Orang miskin yang menerima, terpaksa juga menerima sedekah meski diringi kata pedas dari muzaki karena memang barangkali memang ia yang meminta. Namun sedekah dengan umpatan, cenderung jauh dari berkah. Uang itu akan digunakan oleh orang miskin sekadarnya saja. Tak ada dorongan untuk mengembangkan karena memang tak dikondisikan demikian. Sedang bagi amil, sedekah yang diberikan dengan kata-kata ancaman, secara psikologis akan menjauhkan dirinya dengan muzaki itu. Jika amilnya kuat, muzaki demikian jadi ladang ibadah. Namun bagi amil yang tak kuat mental, perjumpaan itu bisa jadi merupakan yang terakhir.

Soal sederhana di atas, jadi bukti bahwa praktek sedekah terpengaruh oleh sikap muzaki, amil dan mustahik. Jangan lupa masih ada pihak lain yang juga mempengaruhi praktek sedekah, yakni masyarakat, perusahaan dan pemerintah. Bahkan ketiga pihak yang terakhir ini punya peran amat kuat. Pemerintah yang kebijakannya tak memihak rakyat, secara otomatis akan memproduksi kemiskinan. Dalam pemerintahan ini, sedekah kehilangan jati dirinya. Sedekah jadi bias, hanya diartikan secara materi saja. Yang jika terhimpun pun relatif kecil. Saat diberikan untuk masyarakat miskin, sedekah hanya teronggok sebagai kegiatan sosial. Kebijakan yang tak memihak, itu juga cermin pemerintah amat berkepentingan dengan para pengusaha. Adanya kerja sama ini, punya dampak yang dahsyat bagi masyarakat. Dengan kebijakan tak memihak, pemerintah dan dunia bisnis merupakan dua kekuatan yang menghancurkan kehidupan rakyat banyak. Sebagai contoh dengan dalih pembangunan, rakyat harus mau menerima ganti rugi penggusuran tanah dan rumah yang ditetapkan sepihak. Cara-cara seperti inilah jadi proses produksi kemiskinan.

Sementara masyarakat yang diam, jadi penyempurna remuknya praktek sedekah. Diamnya masyarakat bisa diakibatkan beberapa faktor. Kebijakan tak memihak itu, juga cermin terjadinya pembungkaman masyarakat secara luas. Segala masukan dan kritisi dianggap mengganggu jalannya pembangunan. Tindakan pemerintah jadi represif. Kekuatan masyarakat pun akhirnya lumpuh. Tampaknya saja masyarakat masih utuh, berdiri di atas kumpulan dokter, manajer, bankir, pengacara dan sejumlah profesi lainnya. Namun sebenarnya mereka semua tak lagi punya kekuatan. Kelompok yang masih punya idealis, hanya tersisa dalam gerakan underground. Meski seperti di Indonesia kini pemerintah tak lagi represif, yang idealis seolah kehilangan momentum. Tak lagi jelas mana kawan yang ingin memperjuangkan hak-hak.

Masyarakat yang tak punya idealis jumlahnya jelas lebih besar. Mereka tak ngeh bahwa ada realitas kehidupan yang ambruk. Mereka amat tak paham bahwa kehidupan kalangan miskin sangatlah sulit. Alih-alih mereka peduli, mereka merasa penanggulangan kemiskinan bukanlah bagian tanggung jawab masyarakat. Kebanyakan dari mereka yang bersedekah, juga hanya tahu bahwa sedekah hanyalah zakat fitrah. Masih ada yang tak mau percaya bahwa ada wajib zakat harta 2.5%. Ciri masyarakat yang tak ngeh ini tampak dari keasyikan untuk diskusi tentang ketransparanan, percaya tidaknya pada lembaga zakat serta bagaimana praktek pengelolaan ekonomi produktif. Sementara diskusi telah berjalan berbulan bahkan bertahun-tahun, namun sedekah mereka tetap kecil saja. Jika sedekah zakat itu diminta dipotong di perusahaan, mereka katakan telah dikirim pada sanak saudara di kampung yang lebih membutuhkan. Sementara kemiskinan di kampung terus makin menjadi-jadi.

Ibadah Yang Dibandingkan

Itulah sedekah yang memang bukan ibadah ritual. Uraian di atas, hanya sekadar contoh. Ada kehidupan yang amat kompleks. Tak bisa saling menyalahkan atau melihat satu soal dari satu sisi saja. Esensi sedekah utuh merasuk pada kehidupan manusia. Dimensinya meluas merambahi kehidupan sosial, ekonomi, politik, kultur, ideologi dan struktur masyarakat. Rambahan dimensi yang luas ini, mencerminkan bahwa sesungguhnya sedekah bukanlah persoalan individual. Sedekah adalah persoalan masyarakat, menyangkut hidup matinya pihak lain. Maka harus ada kekuatan yang bisa menggerakkan sedekah. Jika sebuah keluarga memutuskan untuk mengatasi satu anak yatim, artinya sebuah kehidupan diselamatkan. Jika sebuah perusahaan memutuskan mengatasi satu usaha mikro, artinya sejumlah kehidupan diselamatkan. Jika negara memutuskan kebijakan yang memihak, artinya kehidupan masyarakat banyak terselamatkan. Satu anak yatim atau sejumlah kehidupan di masyarakat, sama-sama mengandalkan adanya sebuah kekuatan.

Ibadah sedekah memang kompleks. Dengan kompleksitas tersebut, sedekah merupakan ibadah yang harus dipelajari dan dibanding-bandingkan. Baik dibandingkan dengan pengelolaan sedekah di masa lalu, maupun penerapannya di negara-negara lain. Tiap zaman berbeda tuntutannya. Tiap daerah dan negara juga berbeda situasi dan kondisinya. Tetapi perbedaan tersebut tentu hanya sebatas zahir bentuknya saja. Esensi substansinya sama, bahwa sedekah adalah perkara keberpihakan. Cara Umar bin Khatab ra berbeda menangani fakir miskin dengan strategi Umar bin Abdul Azis. Lihat, Umar bin Khatab memang lebih banyak menghimpun sedekah. Namun dalam waktu satu setengah tahun, Umar bin bin Abdul Azis yang hanya seperempat mengumpulkan sedekah, ternyata mampu membasmi kemiskinan rakyatnya. Artinya ada kesadaran dan ada kekuatan dalam merumus dan menerapkan kebijakan agar negara makmur dan rakyat bisa hidup normal.

Di masa sekarang, Malaysia jadi negara yang piawai dalam memakmurkan rakyat. Bahkan di tahun 2003, dinyatakan penduduk Malaysia yang berpenghasilan di bawah RM 1.200 berhak atas dana zakat. Di Indonesia jumlah itu senilai Rp 3 jutaan. Batas kemiskinan antara Indonesia dan Malaysia boleh berbeda. Tetapi substansinya bukan terletak pada kecil atau besar, melainkan sedekah tetap bicara keberpihakan. Malaysia dan di masa dua Umar, kebijakannya mampu mengkondisikan setiap komponen bangsa untuk sama-sama bertanggung jawab pada kehidupan. Ada kebijakan yang harus berpihak, dan itulah tugas pemerintah. Ada kesadaran kuat untuk tak merugikan pihak lain, itulah tugas para pengusaha. Ada kesadaran untuk memberi rasa kasih, itulah peran masyarakat.

Apa yang terjadi dan kiat penanggulangannya di masa Umar dan khulafarasidin lainnya harus dipelajari. Bagaimana Malaysia bisa memakmuran negeri, tentu juga jadi studi menarik. Lebih-lebih konon katanya Malaysia belajar banyak dari Indonesia. Berarti sebelumnya mereka telah mempelajari juga apa kekurang kita. Negara Mesir yang lebih miskin ketimbang Indonesia, ternyata toh pemerintahnya tetap bisa memberi tanggung jawab sosial kepada rakyat. Harga-harga di sana relatif murah dan stabil. Pemerintah Mesir bahkan membuat secara khusus kementrian wakaf. Dan di Mesir ini berdiri Al Azhar Kairo, sebuah institusi yang hidup dengan wakaf. Telah jutaan orang yang bisa menimba ilmu di Al Azhar Kairo dengan dana wakaf Al Azhar itu.

Bisakah juga kita mempelajari negara yang tidak menangani soal zakat dan wakaf? Jawabnya tentu bisa. Sebab dimensi sedekah itu meluas. Sedekah tak terbatas hanya materi, melainkan substansi sedekah terletak pada niat berbuat baiknya. Niat berbuat baik, akan lahir dalam berbagai bentuk. Membuat kebijakan untuk memakmurkan negeri, jelas merupakan kebijakan yang paling esensial. Karena itu kita bisa belajar cara India menangani kemiskinan. Melalui pendidikan India memecah struktur kasta yang selama ini telah menjebak negerinya. Orang-orang dari kalangan Sudra, kini tak sedikit yang telah hidup makmur di belahan dunia di luar India. Mereka kini jadi asset India untuk membangun negeri. Bukan lagi merupakan kasta terendah yang selama ini dianggap hina dan jadi beban masyarakat.

Dakwah Tertinggi

Sedekah merupakan ibadah yang hidup. Harus dipelajari dari masa ke masa, dari satu daerah ke daerah lain serta dari satu ke berbagai negara lain. Harus dicari benang merah antara srategi, konsep, metode dan kiat memakmurkan negeri. Juga harus cakap untuk melihat mana yang tepat dan mana yang mustahil. Yang juga musti diarifi, tak bisa memaksa-maksa kehendak. Apa yang sukses di sana, belum tentu kiatnya pas dengan kita. Sebaliknya apa yang tidak tepat di sana, barangkali malah justru tepat diterapkan di Indonesia. Tak bisa kita hanya melihat phisik dan kondisinya saat itu saja. Ada faktor lain yang harus ditangkap secara holistik. Dan yang terpenting, ada ruh dan jiwa yang harus disibak. Itulah kunci studi banding. Apakah memang ada sungguh-sungguh keinginan untuk memakmurkan negeri. Jika ada, kebijakan keberpihakan rakyat banyak harus dirumus dan diterapkan tanpa kompromi. Membuat kebijakan untuk rakyat banyak jelas sebuah kebaikan. Inilah dakwah yang harusnya diperankan pemerintah.

Sementara bagi kita, tak cukup berdakwah sedekah hanya dengan normatif saja. Bagaimanapun fiqih jadi landasan untuk menggulirkan sedekah. Sedekah berbedah dengan shalat dan puasa. Maka tak cukup berdakwah sedekah hanya dengan pendekatan fiqih semata. Sedekah adalah ibadah yang hidup. Yang jatuh bangunnya masyarakat tertandai dari kehidupan sedekah ini. Semakin Indonesia miskin, semakin tampak ada yang salah dalam menempatkan sedekah. Maka siapa yang bisa menangkap hubungan ini, berarti telah menemukan esensi sedekah. Korelasi struktur kemiskinan dalam konteks sosial, ekonomi dan politik telah ditangkap jiwanya. Inilah jenjang dakwah tertinggi dalam kehidupan manusia. Ingat tujuan utama sedekah adalah memenuhi hak orang lain. Dengan pemenuhan hak itu, mereka terkondisikan untuk bisa leluasa beribadah. Beribadah untuk menyembah kepada Allah swt, dan kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tenang.


Januari 2006